Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Persepsi Masyarakat Terhadap Degradasi Nilai-nilai Budaya Tarian Dero Dikecamatan Pamona Selatan Kabupaten Poso Putri Damayanti; Erman Syarif; Ramli Umar; Hasriyanti; Maddatuang
Indonesian Journal of Fundamental and Applied Geography Vol. 3 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Lontara Digitech Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61220/xwm0dz89

Abstract

Degradasi budaya merujuk pada kemerosotan nilai-nilai, norma, tradisi, dan praktik budaya dalam suatu masyarakat. Persepsi masyarakat sangat penting dalam upaya pelesatarian budaya lokal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui:1) Persepsi masyarakat terhadap degradasi nilai-nilai budaya tarian Dero di Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso. 2) Untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya degradasi nilai- nilai budaya tarian. 3) Untuk mengetahui dampak dari degradasi budaya tarian Dero terhadap identitas budaya. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisi data dengan reduksi data, penyajian data dan pengambilan kesimpulan. Informan penelitian ini yaitu Tokoh Adat, Masyarakat, dan Pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa degradasi nilai-nilai budaya pada tarian dero itu menghasilkan persepsi negatif di kalangan masyarakat. Faktor yang menyebabkan adalah modernisasi, kurangnya partisipasi masyarakat, berkurangnya komunitas dero dan kurangnnya perhatian dari pemerintah  setempat. Dampak yang ditimbulkan yaitu munculnya perilaku menyimpang. Hilangnya keaslian budaya juga menjadi dampak dari degradasi nilai budaya ini terlihat dari perubahan makna nilai, perubahan gerakan serta musik yang dipakai. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk pelestarian agar budaya lokal tetap dipertahankan dengan nilai yang terkandung didalamnya.
Pengaruh Lama Fermentasi dan Kombinasi Biofertilizer Kotoran Kambing dengan AB Mix terhadap Pertumbuhan Kangkung (Ipomoea reptans Poir.) dalam sistem Hidroponik Nurhayani H. Muhiddin; Akhmad Syakur; putri damayanti; Sahrani U
Jurnal Biogenerasi Vol. 11 No. 2 (2026): April - Juni 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/fhw3zr91

Abstract

Water spinach (Ipomoea reptans Poir.) is a leafy vegetable that is highly nutritious and has the potential to be cultivated using a hydroponic system with environmentally friendly organic fertilizers. This study aims to determine the effect of fermentation duration and the combination of goat manure biofertilizer with AB Mix on the growth of water spinach (Ipomoea reptans Poir.) in a hydroponic system. The biofertilizer was fermented for 7, 14, and 21 days, then applied to various treatment combinations. The results showed that 7-day fermentation produced the best results in the P125AB75 treatment, with an average leaf width of 1.60 ± 0.56 cm and leaf length of 5.37 ± 1.05 cm. Fourteen-day fermentation produced optimal growth in the P20AB100 treatment with a leaf width of 2.13 ± 0.15 cm and a leaf length of 5.35 ± 0.59 cm. Meanwhile, 21 days of fermentation showed the most significant results in the P30AB100 treatment with a leaf width of 2.30 ± 0.10 cm and a leaf length of 6.45 ± 0.46 cm. Increasing the fermentation period was proven to improve nutrient availability, enrich active metabolites, and stabilize organic compounds, thereby supporting more optimal vegetative growth of water spinach compared to pure manure. Thus, liquid biofertilizer from 21-day fermentation, especially in the P30AB100 combination, is the best treatment for enhancing water spinach growth in hydroponic systems.