p-Index From 2021 - 2026
0.835
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Borneo Nursing Journal
Siti Fadhilatun Nashriyah
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Asupan Protein Hewani Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri di SMP Negeri 3 Wates Kulon Progo Yogyakarta Fifi Amalia Marzuki; Siti Fadhilatun Nashriyah; Nor Eka Noviani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.226

Abstract

Remaja putri merupakan kelompok yang rentan mengalami anemia karena telah mengalami menstruasi dan sedang berada dalam masa pertumbuhan yang membutuhkan asupan zat gizi lebih tinggi, terutama zat besi. Salah satu sumber zat besi penting berasal dari protein hewani, sehingga rendahnya konsumsi protein hewani dapat menyebabkan tidak tercukupinya kebutuhan zat besi dalam tubuh. Hal ini berdampak pada penurunan kadar hemoglobin yang berujung pada terjadinya anemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan protein hewani dengan kejadian anemia pada remaja putri. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Variabel independen adalah konsumsi sumber asupan protein hewani, sedangkan variabel dependen kejadian anemia. Sampel penelitian sebanyak 57 responden dengan teknik pengambilan sample adalah purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner SQ-FFQ frekuensi asupan protein hewani dalam 1 bulan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji chi-square. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswi putri SMP Negeri 3 Wates Kulon Progo Yogyakarta, didapatkan p-value 0,038 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi asupan protein hewani dengan kejadian anemia pada remaja putri.
Hubungan Asupan Zat Gizi Makro Dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronik pada Ibu Hamil di Puskesmas Berbah Maulida Intan Purnama; Siti Fadhilatun Nashriyah; Silvi Lailatul Mahfida
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.275

Abstract

Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil merupakan salah satu masalah gizi utama yang berdampak terhadap kesehatan ibu dan janin. KEK dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, termasuk kelahiran bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan kematian ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan zat gizi makro (karbohidrat, protein, dan lemak) dengan kejadian KEK pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Berbah. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) dan melibatkan 56 responden yang dipilih melalui teknik Purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) dan pengukuran antropometri Lingkar Lengan Atas (LILA). Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan uji fisher exact . Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein dengan kejadian KEK (p = 0,000), di mana ibu dengan asupan protein kurang memiliki risiko lebih tinggi mengalami KEK. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara asupan karbohidrat (p = 0,532) dan lemak (p = 0,109) dengan kejadian KEK. Namun, ibu dengan asupan lemak kurang memiliki risiko 6 kali lebih besar mengalami KEK (OR = 6; 95% CI: 0,5–73,5), meskipun tidak bermakna secara statistik. Kesimpulannya, asupan protein merupakan faktor zat gizi makro yang paling berpengaruh terhadap kejadian KEK pada ibu hamil di Puskesmas Berbah.
Hubungan Tingkat Stress Dengan Praktik Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Menyusui Di Wilayah Kerja Puskesmas Gamping 1 Sleman Saskia Felisha Zahrani; Ririn Wahyu Hidayati; Siti Fadhilatun Nashriyah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.323

Abstract

ASI (Air Susu Ibu) Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain. Bayi yang tidak menerima ASI eksklusif dapat mengalami dampak negatif terhadap kesehatannya, salah satu risiko yang dapat timbul adalah stunting. Jika bayi tidak memperoleh asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhannya, maka mereka berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan di masa mendatang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan tingkat stress pada ibu menyusui dengan praktik pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Gamping 1. Pengambilan data ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional, yaitu metode penelitian observasional. Populasi pada penelitian ini merupakan ibu menyusui dengan bayi usia 6 – 7 bulan yang berdomisili di wilayah Kerja Puskesmas Gamping 1. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling (Sampel bertujuan) dan didapatkan 65 sampel. Pada penelitian ini, instrument yang dugunakan untuk mengukur tingkat stress pada ibu menyusui yaitu kuesioner Perceived Stress Scale (PSS). Selain itu, instrument yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner ASI eksklusif. Analisis uji hubungan tingkat stress pada ibu menyusui dengan praktik pemberian ASI eksklusif pada penelitian ini menggunakan analisis chi-square. ibu yang memberikan ASI eksklusif memiliki tingkat stress yang normal (80%) dan tingkat stress ringan (47,83%). Sementara mayoritas ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif memiliki tingkat stress berat (72%) dan tingkat stress cukup berat (85,71%). Uji statistik menggunakan uji Fisher’s Exact menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat stress dengan praktik pemberian ASI eksklusif dengan nilai p-value = 0,015.
Hubungan Pengetahuan Gizi Dan Kebiasaan Makan Terhadap Anemia Pada Remaja Putri Di SMP Negeri 1 Godean Indah Sari Kurnia; Siti Fadhilatun Nashriyah; Ririn Wahyu Hidayati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.361

Abstract

Berdasarkan Dinas Kesehatan DI Yogyakarta prevalensi anemia pada remaja putri sebesar 48,9% di tahun 2018 (Profil Kesehatan Kota Yogyakarta, 2022). Prevalensi anemia remaja putri di Kabupaten Sleman dari tahun 2022 sebesar 12,60% meningkat menjadi 22,86% pada tahun 2023. Secara umum, anemia pada remaja putri dapat berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan organ reproduksi. Pengetahuan sebagai salah satu yang dapat membantu remaja dalam menciptakan kebiasaan makan yang sehat. Remaja yang memiliki pemahaman pengetahuan yang baik terkait anemia akan membentuk kebiasaan makan yang sehat sehingga dapat mengurangi anemia. Salah satu faktor resiko penyebab anemia meliputi kekurangan zat gizi (vitamin A, vitamin B12, folat dan zat besi), perdarahan, peradangan kronis, infeksi parasit dan kondisi bawaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi dan kebiasaan makan terhadap anemia pada remaja putri di SMP Negeri 1 Godean. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu Pengetahuan gizi dan kebiasaan makan, sedangkan variabel dependen anemia. Sampel penelitian sebanyak 30 responden dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Instrument yang digunakan berupa kuesioner pengetahuan gizi terkait anemia dan kuesioner kebiasaan makan yang berisikan jenis, jumlah dan frekuensi makan serta alat GCU Hb untuk mendeteksi kadar Hb. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji Fisher’s Exact. Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi dengan kejadian anemia (p=1,000) dan juga menunjukkan bahwa kebiasaan makan tidak ada hubungan secara signifikan dengan kejadian anemia (p=0,165).
Hubungan Asupan Protein Dan Tablet Tambah Darah Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri Di SMPN 12 Kota Yogyakarta Sri Nugraha Lestari; Ibtidau Niamilah; Siti Fadhilatun Nashriyah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.429

Abstract

Latar Belakang: Anemia masih menjadi masalah kesehatan utama pada remaja putri. Menurut Data WHO 2022 prevalensi anemia global anemia pada wanita berusia 15–49 tahun adalah 29,9% pada tahun 2021. Sedangkan untuk data negara Indonesia sendiri, menyebutkan prevalensi anemia pada wanita berusia 15-49 tahun sebesar 31,2% menurut Buku Data Kesehatan DIY 2023 prevalensi anemia pada remaja putri memiliki angka anemia terbanyak ke dua dengan prevalensi 29,51%. Faktor risiko yang sering dikaitkan adalah rendahnya asupan protein dan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Remaja putri merupakan kelompok yang sangat rentan mengalami anemia karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan cepat yang membutuhkan energi serta zat gizi tinggi. Berbagai faktor memengaruhi kejadian anemia pada remaja, meliputi asupan zat gizi (protein, zat besi), kepatuhan konsumsi TTD, pola menstruasi, tingkat pengetahuan, hingga kondisi sosial ekonomi Tujuan: Mengetahui hubungan asupan protein dan konsumsi TTD dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 12 Kota Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan survei analitik dengan desain cross sectional. Responden berjumlah 20 siswi yang dipilih menggunakan quota sampling. Data asupan protein dikumpulkan menggunakan SQ-FFQ dengan jangka waktu 1 tahun terakhir, kepatuhan konsumsi TTD melalui kuesioner, dan kadar hemoglobin diukur menggunakan Hb meter digital. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Fisher’s Exact Test. Hasil: Sebagian besar responden memiliki asupan protein kurang (81,25%) dan tidak patuh mengonsumsi TTD (93,75%). Prevalensi anemia sebesar 15% Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein dengan kejadian anemia (p=1,000) maupun antara kepatuhan konsumsi TTD dengan kejadian anemia (p=0,088). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan protein maupun kepatuhan konsumsi TTD dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 12 Kota Yogyakarta.