Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Hubungan Self-Efficacy Dan Dukungan Keluarga Dengan Keaktifan Lansia Dalam Kegiatan Posyandu Lansia Di Desa Ranuyoso Yudhi Anggara Kurniawan; Dodik Hartono; Ainul Yaqin Salam; Suhari Suhari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.462

Abstract

Menjadi lansia merupakan salah satu tahap alami dalam siklus kehidupan manusia. Penurunan daya tahan tubuh merupakan salah satu dampak dari penuaan yang dapat meningkatkan kemungkinan munculnya masalah kesehatan pada lansia. Posyandu lansia merupakan program yang bertujuan untuk memantau kesehatan lansia secara efektif, sehingga dapat meminimalisir risiko kesehatan yang mungkin timbul. Dukungan dari keluarga juga sangat penting dalam meningkatkan motivasi lansia untuk rutin menghadiri posyandu lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dan dukungan keluarga terhadap keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu lansia di Desa Ranuyoso, Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia sebanyak 62 responden, sedangkan penentuan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 54 responden. Instrumen yang digunakan meliputi lembar kuesioner General Self-efficacy Scale (GSES) untuk mengukur self-efficacy, kuesioner modifikasi berdasarkan Nursalam (2019) dan Firdaus (2021) untuk mengukur dukungan keluarga, serta observasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji statistik Spearman rho-test. Hasil uji Spearman rho-test menunjukkan nilai ρ-value = 0,000 sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara self-efficacy dan dukungan keluarga dengan keaktifan lansia dalam kegiatan posyandu di Desa Ranuyoso, Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang. Tenaga kesehatan perlu memberikan edukasi kepada lansia dan keluarga tentang pentingnya kegiatan posyandu lansia dalam memantau kesehatan lansia. Selain itu perlu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit pada lansia dalam kegiatan posyandu lansia.
Pengaruh Edukasi Kesehatan Berbasis Teknologi dengan Pendekatan Sunrise Model terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Lansia Hipertensi Peserta Prolanis Puskesmas Kunir: The Effect of Technology-Based Health Education Using the Sunrise Model Approach on Medication Adherence Among Elderly Hypertensive Patients Participating in the Prolanis Program at the Kunir Community Health Center Masruris Sulton; Dodik Hartono; Marfuah; Ainul Yaqin Salam
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 1 (2026): EDISI JANUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.226

Abstract

Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit kronis yang umum dialami oleh lansia dan memerlukan kepatuhan pengobatan jangka panjang untuk mencegah komplikasi. Namun, tingkat kepatuhan lansia dalam menjalani perawatan hipertensi masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan berbasis teknologi dengan pendekatan Sunrise Model terhadap kepatuhan minum obat lansia hipertensi peserta Prolanis di Puskesmas Kunir. Metode yang digunakan adalah pre-experimental design dengan jenis pretest and post-test one group design. Sampel dalam penelitian ini adalah 31 lansia hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan menggunakan alat ukur kuisioner (MMAS-8). Analisis data menggunakan Wilcoxon test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan edukasi, sebagianbesar lansia (74,2%) memiliki tingkat kepatuhan rendah. Setelah diberikan edukasi kesehatan berbasis teknologi dengan pendekatan Sunrise Model, terjadi peningkatan kepatuhan menjadi kategori sedang pada 74,2% responden. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara sebelum dan sesudah intervensi denagn nilai p= 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan: Temuan ini sejalan dengan teori Leininger yang menyatakan bahwa edukasi yang mempertimbangkan aspek budaya, nilai, dan keyakinan individu akan lebih efektif dalam mengubah perilaku kesehatan. Pemanfaatan teknologi dalam penyampaian edukasi juga terbukti membantu meningkatkan akses dan pemahaman lansia terhadap informasi kesehatan. Oleh karena itu, pendekatan edukatif ini direkomendasikan untuk diterapkan secara luas dalam program manajemen penyakit kronis di komunitas
Efektivitas Kompres Hangat Kayu Manis dan Jahe Merah terhadap Nyeri pada Gout Arthritis : The Effectiveness of Warm Cinnamon and Red Ginger Compresses on Pain in Gout Arthritis Arini Fitria; Marfuah; Erna Handayani; Ainul Yaqin Salam
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 2 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.232

Abstract

Pendahuluan: Tinggi nya konsumsi makanan mengandung asam urat menjadi faktor terjadi nya gout arthritis populasi dewasa di desa Rogotrunan Kabupaten Lumajang.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Efektivitas Kompres Hangat Kayu Manis dan Jahe Merah terhadap Nyeri pada Penderita gout arthritis di Posyandu Melati, yang dilaksanakan pada tanggal 16-24 Juli 2025.  Metode penelitian secara kuasi eksperimen, desain two group pretest-posttest, sampel diperoleh secara purposive sampling sebanyak 30 sampel. Hasil: Penelitian intervensi kedua terapi sama-sama efektif menurunkan nyeri, kompres kayu manis bekerja efektif dalam jangka waktu 5–7 hari, sedangkan kompres jahe merah lebih cepat, yaitu dalam 3–5 hari. Menurut Uji T Test dengan nilai kompres hangat kayu manis dengan hasil 0.028 dan jahe merah dengan hasil 0,017 < 0,05, sehingga dapat dinyatakan H1 diterima yang artinya terdapat perbedaan yang singnifikan kompres hangat kayu manis dan jahe merah. Kesimpulan: Kompres kompres hangat kayu manis dan kompres hangat jahe merah, keduanya efektif menurunkan nyeri pasien gout arthritis, terdapat perbedaan 0.11 sehingga menjadikan kompres hangat jahe merah lebih unggul sebagai pilihan terapi komplementer nonfarmakologis untuk percepatan penurunan nyeri.
Pengaruh Premature Infant Oral Motor Intervention (PIOMI) Terhadap Peningkatan Intake Oral Pada Bayi Prematur Di Ruang Neonatus RSUD Dr. Haryoto Lumajang: The Effect of Premature Infant Oral Motor Intervention (PIOMI) on Increasing Oral Intake of Premature Infants in the Neonatal Care of Dr. Haryoto Lumajang Public Hospital Ervina Almeliayanti; Rizka Yunita; Suhari; Ainul Yaqin Salam
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 2 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.236

Abstract

Penyebab utama keterlambatan pemulangan bayi prematur dari rumah sakit adalah kurangnya pemberian makanan secara mandiri. Penyebab bayi prematur mengalami hambatan ini meliputi tonus postural yang tidak memadai, tidak adanya refleks menelan, ketidakmampuan melakukan self-regulation, serta kondisi fisiologis yang tidak stabil. Masalah yang timbul dari keterampilan minum per oral pada bayi prematur menyebabkan pencapaian pemenuhan nutrisi yang tidak optimal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui Pengaruh Premature Infant Oral Motor Intervention (PIOMI) Terhadap Peningkatan Intake Oral Bayi Prematur di Ruang Neonatus RSUD Dr. Haryoto Lumajang.  Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Pra-Experiment pendekatan One Group Pretest Posttest Design. Populasi penelitian ini adalah bayi prematur usia gestasi 32-34 minggu di Ruang Neonatus RSUD Dr. Haryoto Lumajang sebanyak 30 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Pegambilan data menggunakan Lembar observasi. Analisa data menggunakan uji T-Test. Hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh PIOMI terhadap peningkatan intake oral bayi prematur. Rata-rata intake oral pretest 5.067 dan postest 32,17. Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan intake oral bayi prematur dengan nilai P= 0.000<0.05. Metode dengan 8 langkah gerakan PIOMI mampu meningkatkan jumlah intake oral bayi prematur secara signifikan. Selain pada kemampuan mengisap, tapi juga pada kenaikan berat badan serta memperpendek masa perawatan.
Pengaruh Terapi Walking Exercise Terhadap Perfusi Perifer Pasien Diabetes Mellitus Di Posyandu Desa Pronojiwo: The Effect of Walking Exercise Therapy on Peripheral Perfusion in Patients with Diabetes Mellitus at the Posyandu of Pronojiwo Atik Fitri Ningsih; Suhari; Nafolion Nur Rahmat; Ainul Yaqin Salam
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 2 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.237

Abstract

Pendahuluan: Perfusi perifer yang terganggu merupakan salah satu komplikasi yang sering dialami oleh pasien diabetes mellitus akibat kerusakan pembuluh darah perifer. Gangguan ini meningkatkan risiko ulkus diabetikum hingga amputasi jika tidak ditangani dengan baik. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat dilakukan untuk meningkatkan aliran darah perifer adalah intervensi walking exercise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi walking exercise terhadap perfusi perifer pasien diabetes mellitus di Posyandu Desa Pronojiwo. Metode: Penelitian ini menggunakan metode pre-experimental design dengan pendekatan one group pre-test and post-test design. Jumlah sampel sebanyak 31 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pasien diabetes mellitus yang mengalami ulkus diabetikum. Pengukuran perfusi perifer dilakukan menggunakan metode Ankle Brachial Index (ABI), dan data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, hampir seluruh responden memiliki ABI kategori abnormal, yaitu 90,3% (kiri) dan 83,9% (kanan). Setelah diberikan intervensi walking exercise, mayoritas responden menunjukkan perbaikan menjadi kategori normal, yaitu 64,7% (kiri) dan 54,8% (kanan). Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan antara nilai ABI sebelum dan sesudah intervensi baik pada ekstremitas kiri (Z = -4,123; p = 0,000) maupun kanan (Z = -3,464; p = 0,001). Kesimpulan: intervensi walking exercise berpengaruh signifikan terhadap peningkatan perfusi perifer pasien diabetes mellitus. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menyatakan bahwa aktivitas fisik teratur dapat meningkatkan sirkulasi darah dan memperbaiki fungsi vaskular.
Hubungan Pengetahuan dengan Kesadaran Diri tentang Gender pada Remaja di MA NURIS Bades Kabupaten Lumajang: The Correlation between Knowledge and Self- Awareness about Gender among Adolescents at NURIS Islamic Senior High School Bades, Lumajang Ambi Yuantoro; Marfuah; Erna Handayani; Ainul Yaqin Salam
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 3 (2026): EDISI MARET
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i3.248

Abstract

Pendahuluan: Kesadaran diri tentang gender merupakan aspek penting dalam pembentukan identitas remaja, yang sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan mereka mengenai konsep gender. Minimnya pemahaman terhadap gender dapat menyebabkan munculnya stereotip, diskriminasi, dan ketidaksetaraan dalam lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan kesadaran diri tentang gender pada remaja di MA NURIS Bades. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik korelasi dan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 75 responden, diambil dengan teknik total sampling. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner, dan analisis statistik menggunakan uji Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang gender, yaitu sebanyak 60 responden (80%), dan sebanyak 63 responden (84%) memiliki kesadaran diri yang baik mengenai gender. Uji korelasi Spearman menghasilkan nilai koefisien sebesar 0,792 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan hubungan yang kuat dan signifikan antara pengetahuan dengan kesadaran diri tentang gender. Hal ini berarti semakin tinggi pengetahuan remaja tentang gender, maka semakin baik pula kesadaran dirinya. Kesimpulan: Temuan ini sesuai dengan teori bahwa pemahaman kognitif individu terhadap isu gender dapat membentuk sikap dan kesadaran sosial yang lebih adil dan reflektif. Oleh karena itu, peningkatan edukasi tentang gender sangat penting untuk mendukung perkembangan psikososial remaja secara positif.
Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Empati Masyarakat Dalam Perilaku Memanusiakan ODGJ Pasung di Wilayah Kerja Puskesmas Ranuyoso: Factors Influencing Community Empathy in Humanizing the Behavior Toward Shackled People with Mental Disorders (ODGJ) in the Working Area of Ranuyoso Public Health Center Donie Indra Ihwahyudy; Dodik Hartono; R. Endro Sulistyono; Ainul Yaqin Salam
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 3 (2026): EDISI MARET
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i3.273

Abstract

Latar Belakang: Masih tingginya kasus pemasungan terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) menunjukkan bahwa empati masyarakat dalam memperlakukan ODGJ secara manusiawi masih perlu ditingkatkan. Berbagai faktor diduga memengaruhi empati tersebut, seperti sosial budaya, pengetahuan, ekonomi, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi empati masyarakat dalam perilaku memanusiakan ODGJ pasung di wilayah kerja Puskesmas Ranuyoso. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik korelatif melalui metode cross sectional. Sampel berjumlah 80 responden yang dipilih secara purposive sampling, yaitu masyarakat yang tinggal dekat dengan pasien ODGJ pasung. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact Test dan multivariat menggunakan regresi linier berganda. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki sosial budaya baik (77,5%), pengetahuan baik (82,5%), penghasilan di bawah UMR (90%), lingkungan baik (77,5%), dan empati tinggi (80%). Hasil uji Fisher’s Exact Test menunjukkan bahwa keempat faktor tersebut memiliki hubungan yang signifikan terhadap empati masyarakat (p < 0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa hanya faktor lingkungan yang berpengaruh secara signifikan terhadap empati masyarakat (p = 0,000; β = 0,610), yang menunjukkan bahwa lingkungan merupakan faktor dominan. Kesimpulan: Penelitian menunjukkan bahwa meskipun faktor sosial budaya, pengetahuan, ekonomi, dan lingkungan secara bivariat memiliki hubungan signifikan dengan empati masyarakat terhadap ODGJ pasung, namun analisis multivariat mengidentifikasi bahwa hanya faktor lingkungan yang berpengaruh secara signifikan. Hal ini menegaskan bahwa lingkungan yang mendukung memainkan peran dominan dalam membentuk empati masyarakat untuk memperlakukan ODGJ secara lebih manusiawi
Pengaruh Health Education Metode Emo Demo terhadap Pengetahuan dan Sikap Orang Tua Anak Pasein Demam Tifoid: The Effect of Health Education Using the Emo-Demo Method on the Knowledge and Attitudes of Parents of Children with Typhoid Fever Siti Mabruroh; Iin Aini Isnawati; Ainul Yaqin Salam; Nafolion Nur Rahmat
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 6 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i6.295

Abstract

Pendahuluan: Penyakit menular gastrointestinal yang paling umum terjadi pada anak adalah demam tifoid. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan orang tua dan anak dalam menjaga kebersihan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh health education metode emo demot terhadap pengetahuan dan sikap orang tua anak pasien demam tifoid.             Metode: Penelitian ini mengunakan metode pre eksperimental dengan penerapan helth education metode emo demo, one group pre-post test. Penelitian dilakukan di Klinik Husada Mulia Tunjung Lumajang. Variabel independen menggunakan SOP tentang health education metode emosional demonstration  dan variabel dependen menggunakan kuesioner kognisi dan sikap orang tua pada pasien demam tifoid anak dengan 12 pernyataan terkait pengetahuan dan sikap 10 pertanyaan. Analisis data yang digunakan ada 2 yaitu Analisis univariat dan Analisis bivariat. Penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon dengan total sampling pengambilan sampel 42 dengan jumlah populasi yang ada 30 responden. Hasil: Penelitian menunjukkan sebelum intervensi, sebagian besar responden memiliki pengetahuan/kognisi rendah (63,4%) dan sikap cukup (80%) terhadap penanganan demam tifoid pada anak akibat kurangnya informasi. Setelah diberikan health education dengan metode Emo Demo, terjadi peningkatan signifikan pada kognisi dan sikap seluruh responden (100%), ditunjukkan dengan jawaban benar yang lebih banyak serta sikap positif yang konsisten mendekati atau melebihi nilai 90, tanpa adanya penurunan skor. Hasil uji Wilcoxon dengan p-value 0,000 (<0,05). Kesimpulan: Terjadi perubahan signifikan sebelum dan sesudah intervensi, sehingga metode Emo Demo efektif meningkatkan kognisi dan sikap orang tua anak pasien demam tifoid. Peneliti merekomendasikan pengembangan modul pelatihan ini bagi tenaga kesehatan untuk memperluas penggunaan metode ini.
IMPLEMENTASI PEER GROUP SUPPORT DENGAN METODE STORYTELLING TERHADAP SELF PROTECTION SKILLS DAN KNOWLEDGE: STRATEGI PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK Nurul Laili; Ro&#039;isah Ro&#039;isah; Ainul Yaqin Salam
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 14, No 3 (2025): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jcu.v14i3.2873

Abstract

Background: The incidence of violence against children has been increasing, with the majority of cases involving sexual abuse. Most victims are girls, and the perpetrators are predominantly individuals close to the child. This phenomenon is closely linked to children’s low levels of self-protection skills and knowledge. Survey data indicate that 98% of elementary school students have inadequate self-protection skills and limited understanding of sexual abuse. Based on these findings, it is essential to provide appropriate interventions to enhance children’s self-protection skills and knowledge. This study aims to examine the implementation of Peer Group Support through the storytelling method on children’s Self-Protection Skills and Knowledge. Methods: This study employed a quasi-experimental design with a non-equivalent group pre-test and post-test approach. A total of 160 respondents participated, consisting of 80 in the control group and 80 in the experimental group. Data were collected using the Self-Protection Model Questionnaire and The Children’s Knowledge of Abuse Questionnaire. Data analysis was conducted using the Wilcoxon test. Results: The results showed a p-value < 0.05 (0.000 < 0.05), indicating a significant effect of the Peer Group Support intervention with the storytelling method on improving children’s self-protection skills and knowledge in the experimental group. Conclusion: The combination of Peer Group Support and the storytelling method can serve as an effective strategy in child sexual abuse prevention programs, as it is easy to implement, participatory, child-friendly, and promotes children’s confidence in taking protective actions. The implementation of Peer Group Support through storytelling has been proven to enhance children’s self-protection skills and knowledge as a preventive measure against sexual violence.