Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Hubungan Frekuensi dan Jenis Pemberian Makanan Pendamping (MPASI) dengan Kenaikan Berat Badan Bayi Usia 6-24 Bulan Isvina Fawaidar Rohmah; Nafolion Nur Rahmat; Alwin Widhiyanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 2 No. 11 (2023)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makanan pendamping ASI merupakan makanan selain ASI yang diberikan saat bayi sudah memasuki usia 6 bulan. Pemberian MPASI sangat penting bagi kebutuhan energi dan zat gizinya. Penelitian ini menguji adanya hubungan antara Frekuensi dan Jenis Pemberian MPASI dengan Kenaikan Berat Badan Bayi Usia 6-24 Bulan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan (Cross-sectional Method). Penelitian ini dilakukan di Posyandu Dusun Kebonsari Kabupaten Jember pada 12 Juni 2023 Sampel yang digunakan sebanyak 31 responden diambil dengan Teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan Kuesioner. Analisa data menggunakan uji Spearman rank. Hasil uji statistik menyimpulkan bahwa terdapat hubungan frekuensi pemberian MPASI dengan kenaikan berat badan bayi usia 6- 24 bulan dengan nilai p value 0.009 <0.05 dan terdapat hubungan jenis pemberian MPASI dengan kenaikan berat badan bayi usia 6-24 bulan dengan nilai p value 0.003 <0.05. Faktor yang paling dominan memengaruhi kenaikan berat badan bayi usia 6-24 bulan adalah jenis pemberian MPASI. Kata Kunci : Frekuensi MPASI, Jenis MPASI, Kenaikan berat badan bayi   ABSTRACT Complementary food which is given when the baby has entered the age of 6 months. Complementary feeding is very important for their energy and nutritional needs. This study examines the correlation between the frequency and type of complementary feeding with weight gain for infants aged 6-24 months. This research was a quantitative study using an approach (Cross-sectional Method). This research was conducted at the Kebonsari Posyandu, Jember on June 12, 2023. The sample used was 31 respondents, taken using the total sampling technique. The research instrument used a questionnaire. Data analysis used the Spearman rank test. The results of the statistical test concluded that there was a correlation between the frequency of complementary feeding and weight gain for infants aged 6-24 months with a p value of 0.009 <0.05 and there was a relationship between the type of complementary feeding and weight gain for infants aged 6-24 months with a p value 0.003 <0.05. The most dominant factor affecting weight gain for babies aged 6-24 months is the type of solid food administration.
Pengaruh Inovasi Halo TB Satap Terhadap Tingkat Kepuasan Pelayanan Di Ruang Pemeriksaan Khusus UPT. Puskesmas Kedungjajang Kabupaten Lumajang Irma Septiani Maulana; Dodik Hartono; Suhari Suhari; Nafolion Nur Rahmat
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.463

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penanganan TBC memerlukan pelayanan yang cepat, terintegrasi, dan berfokus pada pasien. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan adalah melalui inovasi “Halo TB Satap”, yaitu sistem pelayanan satu pintu yang dirancang untuk mempermudah proses pemeriksaan, pengobatan, dan pemantauan pasien TBC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inovasi Halo TB Satap terhadap tingkat kepuasan pelayanan pada pasien Tuberkulosis. Penelitian ini menggunakan desain pre eksperimental dengan pendekatan pre–post test design. Jumlah responden sebanyak 52 orang yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan bantuan SPSS. Sebanyak 32 responden mengalami peningkatan kepuasan, 19 responden tidak mengalami perubahan, dan 1 responden mengalami penurunan kepuasan. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -4,959 dan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara penerapan inovasi terhadap peningkatan kepuasan pasien. Peneliti menilai bahwa Inovasi Halo TB Satap dapat menjadi solusi praktis dalam meningkatkan kepuasan pelayanan, khususnya pada ruang pemeriksaan khusus. Inovasi yang responsif dan terfokus pada kebutuhan pasien dinilai mampu memperbaiki kualitas layanan secara nyata. Inovasi ini direkomendasikan untuk diterapkan secara berkelanjutan dalam rangka mendukung program eliminasi TBC.
PERAN DIET DASH DENGAN METODE PEER GROUP TERHADAP POLA MAKAN PENDERITA DIABETES MELLITUS Nafolion Nur Rahmat; Kurniawan Erman Wicaksono; Sena Wahyu Purwanza
Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIMAS)
Publisher : STIKES Garuda Putih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52741/abdimas.v4i1.133

Abstract

Diabetes mellitus is a chronic health problem with an increasing prevalence, including in Kalibuntu Village, Probolinggo Regency. Unhealthy dietary patterns are a major factor that worsen the condition of patients, while the implementation of appropriate diets is often hindered by limited knowledge and lack of social support. This community service program aimed to improve the dietary patterns of diabetes patients through the application of the DASH diet (Dietary Approaches to Stop Hypertension) using a peer group approach. The method consisted of education and group-based mentoring carried out in three stages: preparation, implementation, and evaluation. Participants were diabetes patients with high blood glucose levels in Kalibuntu Village. Interventions included health education, small group discussions with facilitators, and the establishment of peer groups to share experiences and provide mutual support. Evaluation was conducted by comparing participants’ knowledge and skills before and after the intervention. The results showed a significant improvement in participants’ understanding of healthy eating patterns, ability to control food intake, and motivation to adhere to the DASH diet. Participants also demonstrated active engagement in discussions and commitment to adopting a healthy lifestyle. The peer group approach proved effective in strengthening social support, which positively influenced health behavior changes. Therefore, implementing the DASH diet through peer group methods can serve as a sustainable promotive and preventive strategy in diabetes management at the community level
Pengaruh Perawatan Metode Kanguru terhadap Penurunan Down Score Bayi Prematur di Ruang NICU RSUD dr. Haryoto Lumajang: The Effect of Kangoroo Mother Care on Reducing Down Score of Premature Babies in the NICU of dr. Haryoto Lumajang Regional Hospital Linda Amalia; R. Endro Sulistyono; Nafolion Nur Rahmat; Achmad Kusyairi
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 1 (2026): EDISI JANUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.218

Abstract

Pendahuluan: Kelahiran prematur masih menjadi tantangan serius dalam kesehatan bayi, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lainnya. Masalah pernapasan merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan pada bayi prematur. Organ tubuh bayi prematur umumnya belum berfungsi dengan optimal sehingga mereka kesulitan beradaptasi dengan lingkungan diluar Rahim, terutama pada organ pernafasan yang dapat diukur dengan Down Score.  Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui Pengaruh Perawatan Metode Kanguru Terhadap Penurunan Down Score Bayi Prematur Di Ruang NICU Rsud Dr. Haryoto Lumajang. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan pra-eksperimen dengan pendekatan One Group Pretest Posttest Design. Populasi penelitian ini adalah Bayi prematur usia gestasi 28-36 minggu di Ruang NICU   sebanyak 34 sampel. Tehnik sampling menggunakan accidental sampling. Pengambilan data menggunakan lembar observasi dan data rekam medis pasien, untuk analisa data menggunakan uji Wilcoxon. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 25 Mei – 25 Juni 2025. Hasil: Penelitian menunjukan potensi efektifitas perawatan metode kanguru dalam menurunkan down score dengan nilai Z sebesar -4.901, terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara Down Score pretest - postest dengan nilai p = 0.00 < 0.05. Kesimpulan: Perawatan metode kanguru efektif menurunkan down score bayi prematur terpasang oksigenisasi di Ruang NICU.  
Hubungan Antara Status Gizi Dengan Proses Penyembuhan Luka Diabetes Mellitus Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Lumajang: The Correlation Between Nutritional Status and the Wound Healing Process in Patients with Diabetes Mellitus in the Inpatient Ward of Islamic Hospital of Lumajang Awalani Riska; Suhari; Nafolion Nur Rahmat; Iin Aini Isnawati
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 1 (2026): EDISI JANUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.228

Abstract

Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik kronis yang dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk luka diabetik yang sulit sembuh. Proses penyembuhan luka pada pasien diabetes sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan proses penyembuhan luka pada pasien diabetes mellitus di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Lumajang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross- sectional dan desain deskriptif korelasi. Populasi penelitian mencakup seluruh pasien diabetes mellitus di Rumah Sakit Islam Lumajang, sedangkan sampel berjumlah 30 pasien diabetes mellitus dengan luka yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner Subjective Global Assessment (SGA) dan lembar observasi Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT) untuk menilai proses penyembuhan luka. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan status gizi baik mengalami proses penyembuhan luka yang lebih cepat. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara status gizi dengan proses penyembuhan luka diabetes mellitus (p-value < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa status gizi yang baik berperan penting dalam mempercepat penyembuhan luka pada pasien diabetes mellitus. Oleh karena itu, intervensi gizi harus menjadi bagian integral dari perawatan pasien diabetes yang mengalami luka.
Pengaruh Terapi Walking Exercise Terhadap Perfusi Perifer Pasien Diabetes Mellitus Di Posyandu Desa Pronojiwo: The Effect of Walking Exercise Therapy on Peripheral Perfusion in Patients with Diabetes Mellitus at the Posyandu of Pronojiwo Atik Fitri Ningsih; Suhari; Nafolion Nur Rahmat; Ainul Yaqin Salam
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 2 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i1.237

Abstract

Pendahuluan: Perfusi perifer yang terganggu merupakan salah satu komplikasi yang sering dialami oleh pasien diabetes mellitus akibat kerusakan pembuluh darah perifer. Gangguan ini meningkatkan risiko ulkus diabetikum hingga amputasi jika tidak ditangani dengan baik. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat dilakukan untuk meningkatkan aliran darah perifer adalah intervensi walking exercise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi walking exercise terhadap perfusi perifer pasien diabetes mellitus di Posyandu Desa Pronojiwo. Metode: Penelitian ini menggunakan metode pre-experimental design dengan pendekatan one group pre-test and post-test design. Jumlah sampel sebanyak 31 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pasien diabetes mellitus yang mengalami ulkus diabetikum. Pengukuran perfusi perifer dilakukan menggunakan metode Ankle Brachial Index (ABI), dan data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, hampir seluruh responden memiliki ABI kategori abnormal, yaitu 90,3% (kiri) dan 83,9% (kanan). Setelah diberikan intervensi walking exercise, mayoritas responden menunjukkan perbaikan menjadi kategori normal, yaitu 64,7% (kiri) dan 54,8% (kanan). Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan antara nilai ABI sebelum dan sesudah intervensi baik pada ekstremitas kiri (Z = -4,123; p = 0,000) maupun kanan (Z = -3,464; p = 0,001). Kesimpulan: intervensi walking exercise berpengaruh signifikan terhadap peningkatan perfusi perifer pasien diabetes mellitus. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menyatakan bahwa aktivitas fisik teratur dapat meningkatkan sirkulasi darah dan memperbaiki fungsi vaskular.
Pengaruh Health Education Metode Emo Demo terhadap Pengetahuan dan Sikap Orang Tua Anak Pasein Demam Tifoid: The Effect of Health Education Using the Emo-Demo Method on the Knowledge and Attitudes of Parents of Children with Typhoid Fever Siti Mabruroh; Iin Aini Isnawati; Ainul Yaqin Salam; Nafolion Nur Rahmat
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 6 (2026): EDISI JUNI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i6.295

Abstract

Pendahuluan: Penyakit menular gastrointestinal yang paling umum terjadi pada anak adalah demam tifoid. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan orang tua dan anak dalam menjaga kebersihan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh health education metode emo demot terhadap pengetahuan dan sikap orang tua anak pasien demam tifoid.             Metode: Penelitian ini mengunakan metode pre eksperimental dengan penerapan helth education metode emo demo, one group pre-post test. Penelitian dilakukan di Klinik Husada Mulia Tunjung Lumajang. Variabel independen menggunakan SOP tentang health education metode emosional demonstration  dan variabel dependen menggunakan kuesioner kognisi dan sikap orang tua pada pasien demam tifoid anak dengan 12 pernyataan terkait pengetahuan dan sikap 10 pertanyaan. Analisis data yang digunakan ada 2 yaitu Analisis univariat dan Analisis bivariat. Penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon dengan total sampling pengambilan sampel 42 dengan jumlah populasi yang ada 30 responden. Hasil: Penelitian menunjukkan sebelum intervensi, sebagian besar responden memiliki pengetahuan/kognisi rendah (63,4%) dan sikap cukup (80%) terhadap penanganan demam tifoid pada anak akibat kurangnya informasi. Setelah diberikan health education dengan metode Emo Demo, terjadi peningkatan signifikan pada kognisi dan sikap seluruh responden (100%), ditunjukkan dengan jawaban benar yang lebih banyak serta sikap positif yang konsisten mendekati atau melebihi nilai 90, tanpa adanya penurunan skor. Hasil uji Wilcoxon dengan p-value 0,000 (<0,05). Kesimpulan: Terjadi perubahan signifikan sebelum dan sesudah intervensi, sehingga metode Emo Demo efektif meningkatkan kognisi dan sikap orang tua anak pasien demam tifoid. Peneliti merekomendasikan pengembangan modul pelatihan ini bagi tenaga kesehatan untuk memperluas penggunaan metode ini.