Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Gambaran Tingkat Stres Kerja Perawat di Rumah Sakit X Olivia Florentina Bara; Ricky Riyanto Iksan; Maria Susila Sumartiningsih; Roza Indra Yeni
Jurnal Kesehatan Panrita Husada Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Kesehatan Panrita Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Stikes Panrita Husada Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37362/jkph.v11i1.892

Abstract

Stres kerja merupakan salah satu permasalahan psikososial yang sering dialami oleh perawat sebagai akibat dari tuntutan pekerjaan, beban kerja yang tinggi, serta tanggung jawab profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Kondisi stres kerja yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak negatif terhadap kinerja perawat, kesehatan fisik dan mental, serta mutu pelayanan keperawatan yang diberikan. Oleh karena itu, identifikasi tingkat stres kerja perawat menjadi hal penting sebagai dasar perencanaan upaya pencegahan dan pengelolaan stres di lingkungan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran tingkat stres kerja perawat di Rumah Sakit X. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh perawat yang bekerja di Rumah Sakit X sebanyak 143 orang. Penentuan jumlah sampel dilakukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%, sehingga diperoleh sampel sebanyak 58 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sesuai dengan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner stres kerja perawat, kemudian dianalisis secara univariat untuk memperoleh distribusi frekuensi, persentase, nilai mean, dan standar deviasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar perawat mengalami stres kerja ringan, yaitu sebanyak 56 responden (96,6%), dengan nilai rata-rata skor stres sebesar 79,1 ± 0,609. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat stres kerja perawat berada pada kategori rendah dan relatif homogen. Tidak ditemukan responden dengan tingkat stres berat. Kesimpulannya, tingkat stres kerja perawat di Rumah Sakit X berada pada kategori ringan, sehingga perlu dilakukan upaya berkelanjutan untuk mempertahankan lingkungan kerja yang kondusif dan mendukung kesejahteraan perawat.
Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Di Puskesmas X Jakarta Barat Tutut Fatmafati; Ricky Riyanto Iksan
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.987

Abstract

Diabetes Mellitus is a condition caused by the failure of the pancreas to produce insulin. Uncontrolled diabetes can cause hyperglycemia or increased blood sugar, which can damage various body systems. This study aims to determine the relationship between family support and medication adherence in Type II Diabetes Mellitus patients at Community Health Center X, West Jakarta. The research design uses quantitative research with a cross-sectional design. This study uses a purposive sampling technique with a sample size of 89 respondents. The instrument used is a questionnaire. The analysis used is univariate analysis and bivariate analysis using the chi-square test. Results Most respondents have high family support (58.4%) and good medication adherence (69.7%). Bivariate analysis showed a significant relationship between family support and medication adherence in patients with type 2 diabetes mellitus. Patients with high family support were 4.526 times more likely to have good medication adherence than those with low family support (OR = 4.526; 95% CI: 1.724–11.884; p = 0.003). Conclusion: There is a significant relationship between family support and medication adherence in patients with type 2 diabetes mellitus. The better the family support provided, the higher the patient's medication adherence, thus supporting the successful management of type 2 diabetes mellitus.
Intervensi Triase Perawat Instalasi Gawat Darurat Terhadap Akurasi Penentuan Prioritas Pasien Hotma Romaida Sinaga; Ricky Riyanto Iksan; Roza Indra Yeni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1262

Abstract

The Emergency Department (ER) requires fast and accurate clinical decision-making, especially in the triage process to determine patient care priorities. Inaccurate triage can cause delays in the treatment of critical patients, so it is necessary to improve nurse competency through triage education and training. This study aims to analyze the effectiveness of triage education and training interventions on improving the accuracy of patient prioritization by ER nurses. This study used an Evidence Based Nursing design with a pre-test and post-test approach. The intervention was carried out on 4 ER nurses at Hospital X on May 18–21, 2026. Respondents were selected based on inclusion criteria, namely nurses who actively perform triage and are willing to participate in the activity. Data were collected using a triage knowledge questionnaire and an observation sheet on the accuracy of triage implementation based on standard operating procedures. Data analysis was performed using a Paired t-test. Before the intervention, all respondents (100%) were in the inaccurate triage accuracy category with an average score of 20.60 ± 4.682. After receiving triage education and training, all respondents (100%) demonstrated correct accuracy, with an average score increasing to 30.80 ± 5.812. Statistical test results showed a significant difference between before and after the intervention, with a p-value of 0.001. Conclusion: Triage education and training effectively improved the accuracy of patient prioritization by emergency department nurses. This intervention can be implemented as a strategy to improve nurse competency in supporting patient safety and the quality of emergency care.
Elevasi Kepala 30° Terhadap Peningkatan Saturasi Oksigen Pada Pasien Stroke Tri Mulyani; Ricky Riyanto Iksan; Roza Indra Yeni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1263

Abstract

Stroke is an acute neurological disease that can cause oxygenation disturbances due to neurological dysfunction, impaired airway protection, and ventilation abnormalities, which may lead to decreased peripheral oxygen saturation (SpO₂). A 30° head-up position is a simple nursing intervention that may improve pulmonary ventilation, enhance gas exchange, and maintain oxygenation in stroke patients. This study aimed to determine the effect of a 30° head-up position on improving oxygen saturation among stroke patients. Methods: This Evidence-Based Nursing (EBN) implementation used a quasi-experimental design with a pre-test and post-test approach involving four stroke patients admitted to Hospital X from May 11–14, 2026. Respondents were selected based on inclusion criteria, including patients diagnosed with stroke, hemodynamically stable conditions, and measurable oxygen saturation using pulse oximetry. The intervention consisted of providing a 30° head-up position. Oxygen saturation was measured before and after the intervention. Data were analyzed using the paired t-test. Results: Before the intervention, all respondents (100%) had oxygen saturation levels below 90%, with a mean value of 89.10 ± 0.68. After receiving the 30° head-up position, all respondents (100%) had oxygen saturation levels above 90%, with the mean value increasing to 99.70 ± 0.79. Statistical analysis showed a significant difference in oxygen saturation before and after the intervention (p = 0.021). Conclusion: The 30° head-up position significantly improved oxygen saturation in stroke patients. This intervention can be applied as a simple, safe, and evidence-based nursing intervention to support optimal oxygenation management in stroke patients.
HUBUNGAN SELF-EFFICACY ORANG TUA DENGAN KEPATUHAN ANAK DALAM MENJAGA KEBERSIHAN AREA GENITAL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS X Rika Harini; Ricky Riyanto Iksan; Elfira Awalia Rahmawati; Sandra Ilona
Menara Medika Vol 9, No 1 (2026): VOL 9 No 1 SEPTEMBER 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mm.v9i1.7610

Abstract

Latar belakang: Kebersihan area genital anak merupakan bagian penting dari personal hygiene yang berperan dalam pencegahan iritasi, inflamasi, dan infeksi saluran urogenital. Kepatuhan anak dalam menjaga kebersihan genital sangat dipengaruhi oleh peran orang tua, terutama tingkat keyakinan diri (self-efficacy) dalam mengarahkan perilaku sehat anak. Tujuan penelitian:  untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy orang tua dengan kepatuhan anak dalam menjaga kebersihan area genital di wilayah kerja Puskesmas X. Metode penelitian: kuantitatif dengan desain cross sectional, di mana pengumpulan data dilakukan bersamaan terhadap dua variabel utama. Populasi penelitian adalah orang tua atau wali yang memiliki anak usia 3–12 tahun dan berdomisili di wilayah kerja Puskesmas X, dengan jumlah sampel sebanyak 40 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner parental self-efficacy yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya serta lembar observasi kepatuhan kebersihan genital anak. Analisis dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil Penelitian:  menunjukkan bahwa dari 23 orang tua dengan self-efficacy tinggi, sebanyak 78,3% anak berada pada kategori patuh, sedangkan dari 17 orang tua dengan self-efficacy rendah, 64,7% anak tergolong tidak patuh. Nilai p = 0,003 dan OR = 6,6 (95% CI: 1,7–25,4) menunjukkan hubungan signifikan antara kedua variabel. Kesimpulan: bahwa self-efficacy orang tua berhubungan bermakna dengan kepatuhan anak, di mana anak dengan orang tua yang memiliki self-efficacy tinggi memiliki peluang lebih besar untuk patuh dalam menjaga kebersihan area genital.