Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBANDINGAN PEMBERIAN TINDAKAN SUCTION TEKANAN 100 DAN 150 TERHADAP SATURASI OKSIGEN PADA PASIEN EKSTUBASI DENGAN GENERAL ANESTESI Alia Nadira; Istiqomah Rosidah; Ellyda Septiani Pramita
JHN: Journal of Health and Nursing Vol. 3 No. 2 (2025): JHN: Journal of Health and Nursing, November 2025
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/jhn.v3i2.771

Abstract

Jumlah tindakan pembedahan terus meningkat setiap tahun, dan sebagian besar menggunakan anestesi umum yang membutuhkan intubasi dan ekstubasi. Ekstubasi berisiko menimbulkan komplikasi seperti penurunan saturasi oksigen, terutama akibat akumulasi sekret di saluran napas. Tindakan suction digunakan untuk membersihkan sekret, namun tekanan yang digunakan perlu disesuaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pemberian tindakan suction tekanan 100 dan 150 terhadap saturasi oksigen pada pasien ekstubasi dengan general anestesi. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan desain quasi experiment dengan two group pre-post test. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik insidental sampling yang berjumlah 56 responden, setiap kelompok berjumlah 28 responden. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi, mesin suction, bedside monitor dan untuk metode pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon dan uji mann-whitney. Hasil analisis menunjukkan mayoritas responden berusia 46–55 tahun, berjenis kelamin perempuan, dan memiliki IMT normal. Uji Wilcoxon menunjukkan adanya pengaruh signifikan sebelum dan sesudah tindakan suction tekanan 100 mmHg (p = 0,025) dan 150 mmHg (p = 0,001) terhadap saturasi oksigen. Uji Mann–Whitney juga menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua tekanan suction tersebut (p = 0,036), sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua tekanan berpengaruh dan memiliki efek yang berbeda terhadap saturasi oksigen pasien ekstubasi.
Hubungan Derajat Perdarahan Dengan Kejadian Hipotensi Pada Operasi Sectio Caesarea Dengan Spinal Anestesi Di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Putri Evsa Ramadhani; Istiqomah Rosidah; Ratih Kusuma Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1517

Abstract

Latar Belakang: Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi akibat blokade saraf simpatis yang menyebabkan vasodilatasi dan penurunan curah jantung. Kondisi ini dapat diperberat oleh perdarahan intraoperatif yang menurunkan volume intravaskular. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan derajat perdarahan dengan kejadian hipotensi pada operasi sectio caesarea dengan spinal anestesi di RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan rancangan cross-sectional pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi di RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Data perdarahan intraoperatif dan hipotensi dikumpulkan melalui observasi dan bedside monitor, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai p value sebesar 0,000 atau kurang dari 0,05 (0,000 < 0,05), sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Karakteristik responden berdasarkan derajat perdarahan menunjukkan mayoritas mengalami perdarahan derajat I sebanyak 36 responden (83,7%), derajat II sebanyak 6 responden (14%), dan derajat III sebanyak 1 responden (2,3%). Berdasarkan kejadian hipotensi, sebagian besar responden tidak mengalami hipotensi sebanyak 33 responden (76,7%), sedangkan yang mengalami hipotensi sebanyak 10 responden (23,3%). Simpulan: Terdapat hubungan antara derajat perdarahan dengan kejadian hipotensi pada pasien operasi sectio caesarea dengan spinal anestesi di RSU PKU Muhammadiyah Bantul dengan kekuatan korelasi yang kuat. Saran: Peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti faktor lain yang memengaruhi hipotensi pada spinal anestesi, seperti usia, cairan prehidrasi, lama penyuntikan anestetik lokal, dan ketinggian blok anestesi.