Nabila Jasmine Faiz
Universitas Negeri Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hakikat Pendidikan dan Pembelajaran, Serta Tanggung Jawab dan Standar Kompetensi Guru Bakhrudin All Habsy; Chalisah Salsabila Widodo; Putri Meisya Ayu Dewantara; Nabila Jasmine Faiz
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 2 No. 1 (2024): Oktober
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v2i1.2521

Abstract

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Tujuannya mengembangkan potensi peserta didik, seperti kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam masyarakat. Prosesnya bisa dilakukan melalui sekolah formal maupun informal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hakikat dari Pendidikan serta tugas dan standart guru di Indonesia, dengan ini kita mengetahui standart yang harus dimiliki oleh seorang guru professional serta bagaimana proses Pendidikan yang berlangsung di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam jurnal ini adalah studi literatur review dari artikel yang mengkaji terkait dengan hakikat serta fungsi pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru adalah pekerjaan berdasarkan ilmu pengetahuan dan pendidikan, memerlukan keahlian dalam bidang tertentu. Syaratnya termasuk ketakwaan, pengetahuan, kesehatan, perilaku baik, dan kompetensi yang diperlukan. Fungsi pendidikan dalam perubahan sosial modern melibatkan adaptasi masyarakatakan nilai dan perilaku baru. Guru profesional perlu memenuhi kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial sesuai dengan UUGD Nomor 14 Tahun 2005. Guru juga harus menjalankan tugas utama sebagai pendidik, administrator, pribadi, dan psikologis dengan tanggung jawab intelektual, profesional, sosial, moral, spiritual, dan pribadi.   
Emotional Eating sebagai Respons terhadap Tekanan Emosional pada Remaja dan Dewasa Awal Gadis Cahayani; Putri Meisya Ayu Dewantara; Nabila Jasmine Faiz; Mayse Shaella Yusel; Wiryo Nuryono
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15914

Abstract

Emotional eating merupakan perilaku makan yang dilakukan sebagai respons terhadap kondisi emosional, sepertistres, sedih, marah, atau cemas, bukan semata-mata karena rasa lapar fisiologis. Perilaku ini cukup rentan terjadi pada remajadan dewasa awal karena pada fase tersebut individumenghadapi berbagai tuntutan perkembangan, akademik, sosial, dan personal yang dapat memengaruhi kondisi emosionalmereka. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkankecenderungan emotional eating pada remaja dan dewasa awalserta mengidentifikasi dampaknya terhadap kondisi emosional, sosial, dan akademik. Penelitian menggunakan pendekatankuantitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan melaluikuesioner daring menggunakan Google Form yang disebarkankepada 85 responden usia remaja dan dewasa awal. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,3% responden mencari makanan ketika mengalami stres, 42,4% mengalami dorongan makan yang kuat saat merasa sedih ataumarah, dan 49,4% mengonsumsi makanan manis atau berlemaksecara berlebihan ketika suasana hati sedang buruk. Selain itu, 54,1% responden mengaku merasa menyesal atau kecewaterhadap diri sendiri setelah makan berlebihan. Meskipundemikian, sebagian besar responden tidak mengalami dampakyang signifikan terhadap kehidupan sosial maupun aktivitasakademik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa emotional eating pada responden lebih banyak berfungsi sebagaimekanisme coping emosional sementara dibandingkan sebagaigangguan perilaku makan yang berat. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kemampuan regulasi emosi dan strategi coping yang lebih adaptif untuk mencegah berkembangnyaperilaku emotional eating yang berlebihan.