James Andris Landele
Sekolah Tinggi Teologi Anderson Manado

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS SEMANTIK TERHADAP KATA 'QADOSH' DALAM HUKUM TAURAT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KONSEP KEKUDUSAN DALAM PERJANJIAN BARU Royke Lantupa Kumowal; James Andris Landele; Heliyanti Kalintabu
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v7i1.2276

Abstract

Penelitian ini menganalisis perkembangan makna qadosh (קָדוֹשׁ) dalam hukum Taurat dan implikasinya terhadap konsep kekudusan dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, qadosh digunakan dalam berbagai konteks, termasuk kekudusan Tuhan, tempat ibadah, umat Israel, dan hukum ritual. Pergeseran konsep ini terlihat dalam Perjanjian Baru, di mana kekudusan (hagios, ἅγιος) tidak lagi berfokus pada status hukum atau ritual, tetapi menjadi bagian dari identitas spiritual orang percaya melalui iman kepada Kristus. Penelitian ini menggunakan pendekatan semantik, leksikal, dan taksonomi untuk mengklasifikasikan makna qadosh dalam berbagai kategori teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekudusan dalam Perjanjian Lama menekankan pemisahan dari hal yang najis secara hukum dan ritual, sedangkan dalam Perjanjian Baru, kekudusan dipahami sebagai transformasi etis dan spiritual yang diberikan melalui anugerah keselamatan dalam Kristus. Temuan ini memberikan perspektif baru dalam studi biblikal dengan mengisi kesenjangan penelitian sebelumnya yang lebih banyak menyoroti aspek teologis tanpa pendekatan linguistik yang mendalam.
Anugerah Yang Menghancurkan Perseteruan Dalam Rekonstruksi Teologi Perdamaian Paulus Berdasarkan Efesus 2:14-18 Dan Dialog Dengan SDG 16 Royke Kumowal; Sigit Widodo; James Andris Landele; Yeheskiel Matani
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Juli 2026 -- (Publication in Progress)
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konflik sosial, intoleransi, diskriminasi, dan ujaran kebencian menunjukkan bahwa perdamaian di Indonesia belum cukup dibangun melalui toleransi formal. Penelitian ini menelaah Efesus 2:14–18 untuk menjelaskan bagaimana anugerah Allah melalui salib Kristus menghancurkan perseteruan, mendamaikan manusia dengan Allah, dan membentuk satu tubuh. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Data dikumpulkan melalui dokumentasi terhadap Alkitab, artikel jurnal ilmiah, dan literatur teologi tentang teologi perdamaian Paulus, rekonsiliasi, konflik sosial, serta SDG 16, khususnya Target 16.1. Data dianalisis secara eksegetis, teologis, deskriptif, interpretatif, dan sintesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendamaian soteriologis menjadi dasar kesatuan eklesiologis dan melahirkan tanggung jawab etis untuk menolak diskriminasi, superioritas identitas, pembalasan, dan kekerasan. Rekonstruksi ini menghasilkan konsep etika perdamaian anugerah yang bersifat Kristosentris, relasional, anti-diskriminasi, anti-retaliasi, transformatif, dan publik. SDG 16 ditempatkan sebagai ruang dialog kontekstual, bukan sumber teologi, sehingga perdamaian sosial tetap dibedakan dari Injil pendamaian. Temuan ini menegaskan bahwa gereja dipanggil menghidupi perdamaian sebagai buah keselamatan melalui pendidikan perdamaian, mediasi konflik, perlindungan korban, dan penolakan ujaran kebencian. Dalam konteks masyarakat majemuk, konstruksi ini menjaga pemberitaan Injil sekaligus menegaskan tanggung jawab sosial gereja. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi teologi perdamaian Paulus berdasarkan Efesus 2:14–18 dan merumuskan relevansinya bagi respons gereja terhadap kekerasan dalam dialog dengan SDG 16.