Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Implementasi Program Deteksi Dini Stunting Di Posyandu: Tinjauan Terhadap Sikap Dan Motivasi Kader Yuli Rahayu; Nurul Ilmi; Ani Asram
Window of Public Health Journal Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Kajian dan Pengelolaan Jurnal FKM UMI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/f145gm17

Abstract

The early detection of stunting program is an important strategy in stunting prevention efforts at the community level through the role of integrated health post (Posyandu) cadres. In the context of program implementation, cadre behavioral factors, particularly attitudes and motivation, are important aspects that need to be reviewed to understand the quality of early stunting detection implementation. Highlighting that other contextual and structural factors influence success can help policymakers feel responsible and motivated to address these broader influences. This study aims to examine the attitudes and motivation of cadres in implementing the early stunting detection program at Posyandu. This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 96 health cadres actively involved in implementing Posyandu activities. The variables studied included cadre attitudes and motivation as independent variables, and the ability to detect stunting as an indicator of program implementation. Data analysis was performed using univariate analysis, bivariate analysis using the Chi-square test, and multivariate analysis using logistic regression to assess the role of variables simultaneously. The results showed a significant relationship between cadre motivation and the ability to detect stunting early (p = 0.003), as well as between cadre attitudes and the ability to detect stunting early (p = 0.019). However, in a multivariate analysis, the attitudes and motivations of health cadres did not show a significant partial effect on the ability to detect stunting early. This finding suggests that the implementation of the early detection program for stunting at integrated health posts (Posyandu) is influenced not only by the attitudes and motivations of health cadres, but also by other contextual and structural factors.
PARADOKS KUALITAS TIDUR DAN STRES BELAJAR PADA MAHASISWA BARU: BUKTI ADAPTASI AKADEMIK AWAL DI PROGRAM D4 PROMOSI KESEHATAN Yuli Rahayu; Nurul Ilmi; Ani Asram
Illea : Journal of Health Sciences, Public Health and Medicine Vol.2, No.1: Februari 2026
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/illea.v2i1.4517

Abstract

Mahasiswa baru pada program studi kesehatan berada pada fase transisi akademik yang rentan terhadap stres belajar. Kualitas tidur umumnya dipandang sebagai faktor protektif terhadap stres akademik. Namun, temuan empiris terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara kualitas tidur dan stres belajar tidak selalu bersifat linear. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas tidur dan stres belajar pada mahasiswa baru Program Studi D4 Promosi Kesehatan serta mengidentifikasi pola hubungan yang berbeda dari temuan penelitian sebelumnya. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 60 mahasiswa baru Program Studi D4 Promosi Kesehatan. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang telah dikategorikan, sedangkan stres belajar diukur menggunakan kuesioner stres akademik. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan stres belajar (p = 0,004). Menariknya, mahasiswa dengan kualitas tidur kategori cukup justru memiliki proporsi stres belajar tinggi yang lebih besar (58,7%), sedangkan mahasiswa dengan kualitas tidur kurang didominasi oleh stres belajar rendah (85,7%). Temuan ini menunjukkan adanya pola hubungan yang bersifat paradoks. Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan stres belajar pada mahasiswa baru D4 Promosi Kesehatan dengan arah hubungan yang tidak konvensional. Kualitas tidur yang cukup tidak selalu berperan sebagai faktor protektif terhadap stres belajar. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan faktor adaptasi akademik dan mekanisme coping mahasiswa baru dalam upaya promosi kesehatan mental di perguruan tinggi
Analisis Tren Bulanan Status Gizi Balita sebagai Dasar Perencanaan Promosi Kesehatan di Tingkat Desa Tahun 2025 Nurul Ilmi; Ani Asram; Yuli Rahayu
Jurnal Promosi Kesehatan Poltekkes Bengkulu Vol 6 No 1 (2026): Media Edukasi Promosi
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/jurnalpromkesbengkulu.v6i1.1309

Abstract

Dynamic monitoring of toddler nutritional status is a fundamental pillar for the early detection of growth disturbances within rural communities. This study aims to map monthly nutritional status trends based on Weight-for-Age (WAZ), Height-for-Age (HAZ), and Weight-for-Height (WHZ) indicators in Bukit Indah and Wattang Soreang Villages throughout 2025 . The research employed a quantitative descriptive design with a longitudinal approach. Secondary data were collected from routine nutrition surveillance reports from January to December 2025, involving all registered toddlers in the study areas via total sampling . The findings revealed significant fluctuations across all nutritional indicators, peaking between August and October. Stunting cases rose sharply from 86 children in January to 229 in October. Additionally, a double burden of malnutrition was identified, characterized by a simultaneous increase in obesity and undernutrition cases. Spatial disparities were observed, with Bukit Indah Village consistently contributing a higher case burden compared to Wattang Soreang Village . This study confirms that toddler nutritional status is influenced by temporal and seasonal factors. Health promotion practitioners are encouraged to develop a "Strategic Health Promotion Calendar" by strengthening nutrition education in the second quarter (April–June) as an anticipatory measure before peak periods to enhance the effectiveness of village-level interventions.
MODEL PERILAKU KADER POSYANDU DALAM PELAKSANAAN PROGRAM KESEHATAN MASYARAKAT: PENDEKATAN PROMOSI KESEHATAN Yuli Rahayu; Nurul Ilmi; Ani Asram
Jurnal Spektrum Kesehatan Vol 2 No 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Maret 2026
Publisher : PT. Media Ilmiah Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/rum-kes.v2i1.76

Abstract

Kader posyandu merupakan aktor utama dalam pelaksanaan program kesehatan masyarakat berbasis komunitas. Namun, perilaku kader sering dipahami secara parsial dan belum dikaji sebagai suatu model perilaku yang terbentuk dari karakteristik individu, pengetahuan, dan keaktifan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model perilaku kader posyandu dalam pelaksanaan program kesehatan masyarakat melalui pendekatan promosi kesehatan. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan potong lintang pada 96 kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Tamamaung, Kota Makassar. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik individu, tingkat pengetahuan, dan perilaku kader. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas kader berusia 46–55 tahun (68,8%), berpendidikan SMA (86,5%), dan tidak bekerja secara formal (84,4%). Sebagian besar kader memiliki pengalaman menjadi kader kurang dari tiga tahun (75,0%). Tingkat pengetahuan kader tentang Buku KIA tergolong sangat baik (84,4%), meskipun hanya 17,7% kader yang memahami cakupan usia pemantauan tumbuh kembang. Seluruh kader (100%) berada pada kategori cukup aktif, dengan skor keaktifan terbanyak sebesar 867 (61,5%). Perilaku kader mencerminkan suatu model perilaku yang dibentuk oleh karakteristik individu, pengetahuan, dan keaktifan kerja. Pendekatan promosi kesehatan berbasis penguatan kapasitas dan segmentasi kader diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan program kesehatan masyarakat.
EVALUASI PEMANFAATAN KELAS IBU BALITA DALAM KAITANNYA DENGAN STATUS GIZI BALITA: STUDI POTONG LINTANG DI LAYANAN PRIMER Nurul Ilmi; Ani Asram; Yuli Rahayu
Jurnal Spektrum Kesehatan Vol 2 No 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Maret 2026
Publisher : PT. Media Ilmiah Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/rum-kes.v2i1.81

Abstract

Masalah gizi pada balita seperti stunting dan wasting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang berdampak pada kualitas tumbuh kembang anak. Puskesmas melakukan intervensi promotif melalui Kelas Ibu Balita untuk meningkatkan praktik pengasuhan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara paparan edukasi Kelas Ibu Balita dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas X. Metode penelitian menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) pada tahun 2025. Variabel paparan adalah keikutsertaan edukasi minimal satu kali dalam enam bulan terakhir, sedangkan variabel outcome adalah status gizi berdasarkan indeks BB/TB. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan hasil p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara paparan edukasi Kelas Ibu Balita dengan status gizi balita ($p=0,316$). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya intensitas paparan edukasi dan keterbatasan statistik pada frekuensi data yang kecil. Edukasi kesehatan lebih sering berdampak pada hasil antara seperti pengetahuan dan sikap dibandingkan langsung pada perubahan antropometri anak.
Kesehatan Mental Dalam Proses Pembentukan Tenaga Promosi Kesehatan: Studi Tingkat Stres Pada Mahasiswa Baru Ani Asram; Yuli Rahayu; Nurul Ilmi
Window of Public Health Journal Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Kajian dan Pengelolaan Jurnal FKM UMI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/pbzz7b53

Abstract

New students are in a transition phase from adolescence to early adulthood, marked by changes in the learning environment, social roles, and demands for independence. The change in status to new students often triggers stress due to academic and psychological adjustments. This is a concern for students in the D4 Health Promotion Study Program. Mental health is a fundamental component in developing prospective health promotion workers, as this profession requires the ability to manage stress, maintain psychological well-being, and serve as a role model for healthy living behaviors. This study aims to describe the stress levels of new students in the D4 Health Promotion Study Program. This study was conducted at the Faculty of Sport and Health Sciences, Makassar State University, D4 Health Promotion Study Program. This study used a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. Respondents in this study were first-semester students in the 2025/2026 academic year in the D4 Health Promotion Study Program. Stress levels were measured using the Perceived Stress Scale (PSS) questionnaire. The results showed that the majority of respondents were in the moderate stress category (81.7%), while a small portion were in the mild stress category (11.7%) and severe stress (6.7%). These findings underscore the importance of early mental health support and encourage collaboration among educators and health professionals to enhance student well-being and professional growth.
Pemetaan Masalah Gizi Balita Berbasis Data Posyandu sebagai Dasar Pengkajian Keperawatan Komunitas di Dua Kelurahan: Mapping Under-Five Nutritional Problems Based on Posyandu Data as a Foundation for Community Health Nursing Assessment in Two Urban Villages Nurul Ilmi; Yuli Rahayu
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 8 (2026): EDISI AGUSTUS
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i8.514

Abstract

Pendahuluan: Data pemantauan pertumbuhan Balita di posyandu merupakan sumber utama data pengkajian keperawatan komunitas, kualitasnya kerap dipengaruhi partisipasi penimbangan yang fluktuatif sehingga berpotensi menimbulkan bias interpretasi. Penelitian ini bertujuan memetakan besaran dan pola masalah gizi balita serta menilai pengaruh fluktuasi cakupan terhadap estimasi prevalensi sebagai dasar perumusan diagnosis keperawatan komunitas. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah repeated cross-sectional terhadap data sekunder agregat rekapitulasi status gizi selama dua belas bulan tahun 2025 di dua kelurahan wilayah kerja puskesmas. Perbedaan proporsi diuji dengan uji z dua proporsi dan dinyatakan sebagai rasio prevalensi. Hasil: Jumlah balita yang ditimbang berkisar 303 hingga 717 anak per bulan atau berbeda 2,4 kali lipat. Prevalensi stunting tergolong tinggi dengan rata-rata 31,2%, jauh melampaui prevalensi nasional sebesar 21,5%, sementara wasting dan underweight masing-masing 6,9% dan 19,7%. Estimasi prevalensi terbukti sensitif terhadap cakupan dengan arah yang berbeda antar indikator: pada bulan cakupan tinggi stunting cenderung lebih tinggi, sedangkan wasting dan underweight lebih rendah (p<0,05). Kesimpulan: Disparitas antar kelurahan konsisten, Kelurahan A mengalami stunting lebih tinggi dibanding Kelurahan B. Temuan ini mendukung perumusan diagnosis defisit kesehatan komunitas dan menegaskan bahwa perawat komunitas perlu menafsirkan data posyandu dengan mempertimbangkan cakupan penimbangan agar penetapan lokus prioritas intervensi tidak keliru.
Dari Pengetahuan ke Praktik: Edukasi Partisipatif Berbasis Herbal Lokal sebagai Strategi Perubahan Perilaku Kesehatan Masyarakat Yuli Rahayu; Nur Indah Atifah Anwar; Nurul Ilmi; Ani Asram; Dicky Indirwan
Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jompaabdi.v5i1.2613

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku kesehatan masyarakat melalui edukasi partisipatif berbasis pemanfaatan herbal lokal. Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat sasaran adalah adanya kesenjangan antara pengetahuan tentang manfaat bahan herbal dengan praktik perilaku kesehatan preventif dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada kelompok masyarakat di Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang, dengan sasaran utama perempuan dewasa sebagai pengelola kesehatan keluarga. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif yang mengintegrasikan edukasi interaktif, diskusi kelompok, serta praktik langsung pengolahan minuman herbal berbasis bahan lokal seperti kunyit dan temulawak. Media pendukung berupa brosur sederhana digunakan untuk memperkuat pemahaman dan memfasilitasi proses pembelajaran kontekstual. Pendekatan ini dirancang untuk memperkuat komponen perubahan perilaku kesehatan yang meliputi peningkatan pengetahuan, pembentukan sikap positif, penguatan kepercayaan diri, dan keterampilan praktik masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai manfaat herbal lokal serta perubahan sikap yang lebih positif terhadap perilaku konsumsi minuman sehat. Peserta juga menunjukkan kemampuan praktik mandiri dalam pengolahan herbal dan komitmen untuk menerapkan perilaku tersebut secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi partisipatif berbasis praktik terbukti efektif dalam menjembatani transisi dari pengetahuan menuju tindakan nyata dalam perilaku kesehatan masyarakat. Sebagai rekomendasi, pendekatan edukasi partisipatif berbasis kearifan lokal dapat dijadikan strategi promosi kesehatan berkelanjutan untuk memperkuat kemandirian dan pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kesehatan keluarga.
Beban Ganda Malnutrisi: Studi Kasus di Dua Desa Nurul Ilmi; Ani Asram; Yuli Rahayu
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2026): MEI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i2.89

Abstract

Beban ganda malnutrisi (double burden of malnutrition) merupakan kondisi di mana masalah kekurangan gizi dan kelebihan gizi terjadi secara bersamaan dalam satu komunitas atau bahkan dalam satu keluarga. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk menggambarkan prevalensi dan pola beban ganda malnutrisi pada balita di Desa BI dan Desa WS sepanjang tahun 2025 berdasarkan data rekap status gizi bulanan. Data dianalisis menggunakan tiga indikator antropometri standar WHO, yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua desa mengalami beban ganda malnutrisi secara bersamaan: kasus stunting kumulatif mencapai 1.088 kasus, wasting 280 kasus, dan underweight 636 kasus, sementara di sisi lain ditemukan kasus risiko gizi lebih, gizi lebih, dan obesitas yang cukup signifikan. Beban tertinggi terjadi pada bulan Agustus dan Oktober. Desa BI secara konsisten mencatat angka lebih tinggi dibanding Desa WS. Temuan ini mengindikasikan perlunya strategi gizi yang komprehensif dan tidak hanya berfokus pada satu sisi spektrum malnutrisi.
Analisis Pola Kunjungan Gigi Puskesmas X Parepare: Implikasi bagi Strategi Promosi Kesehatan Nurul Ilmi; Ani Asram; Yuli Rahayu
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2026): MEI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i2.93

Abstract

Pola kunjungan dan pemanfaatan layanan kesehatan gigi dan mulut di fasilitas kesehatan tingkat pertama merupakan cerminan perilaku kesehatan masyarakat sekaligus indikator efektivitas program promosi kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola kunjungan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas X Kota Parepare sepanjang tahun 2025. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis data sekunder yang bersumber dari 12 laporan bulanan kegiatan pelayanan Kesgilut periode Januari hingga Desember 2025. Variabel yang dianalisis meliputi pola kunjungan pasien, profil penyakit berdasarkan ICD-10, jenis tindakan perawatan, dan pola rujukan. Hasil penelitian menunjukkan total 2.229 kunjungan dengan dominasi kunjungan lama (90,6%) dan pasien perempuan (73,4% pada kunjungan lama). Kunjungan ibu hamil hampir tidak tercatat sepanjang tahun (hanya 2 kunjungan). Penyakit pulpa dan jaringan perapikal (K04) menjadi diagnosis terbanyak (65,7%). Pencabutan mendominasi tindakan perawatan dengan rasio tumpatan terhadap pencabutan sebesar 1:78, jauh di bawah standar minimal 1:1. Premedikasi tercatat sebanyak 685 kasus dan rujukan ke rumah sakit sebanyak 452 kasus (20,3%). Pola-pola ini secara konsisten mengindikasikan perilaku pencarian layanan kesehatan gigi yang bersifat reaktif dan rendahnya pemanfaatan layanan preventif. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan strategi promosi kesehatan gigi berbasis komunitas yang lebih terarah, termasuk integrasi skrining gigi dalam posyandu, edukasi deteksi dini, dan penguatan peran kader kesehatan.