Amandus Suhaedi Dol
Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SANTO LONGINUS DALAM TRADISI GEREJA: KAJIAN ATAS DIMENSI HISTORIS, TEOLOGIS, DAN DEVOSIONAL Yanto Sandy Tjang; Amandus Suhaedi Dol; Laurentius Prasetyo; Felisitas Yuswanto
Jurnal Reinha Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i2.485

Abstract

Penelitian ini menganalisis figur Santo Longinus melalui pendekatan multidisipliner yang mencakup dimensi historis, teologis, hagiografis, dan devosional. Meskipun narasi Injil hanya menyebut seorang prajurit dan centurion tanpa identitas personal dalam kisah sengsara, tradisi Gereja kemudian mengembangkan sosok “Longinus” sebagai saksi penyaliban yang mengalami pertobatan dan akhirnya dihormati sebagai santo. Kajian ini menunjukkan bahwa konstruksi figur Santo Longinus terbentuk melalui interaksi antara teks kanonik, tradisi apokrif, elaborasi hagiografis, serta penerimaan liturgis dan devosional dalam Gereja Timur dan Barat. Secara teologis, tindakan penusukan lambung Kristus dipahami sebagai momen pewahyuan misteri keselamatan, terutama melalui simbolisme darah-air yang sejak tradisi patristik dikaitkan dengan sakramen Baptisan dan Ekaristi serta gagasan Gereja yang lahir dari sisi Kristus. Dari perspektif historis–kultural, perkembangan legenda, ikonografi, dan devosi, termasuk venerasi relikui Holy Lance, memperlihatkan bagaimana memori kolektif Gereja membentuk identitas spiritual umat melalui figur Santo Longinus. Analisis kritis penelitian menegaskan bahwa signifikansi Santo Longinus tidak terletak pada kepastian historis, melainkan pada  daya  simbolisnya   sebagai  teladan  pertobatan, saksi iman dan representasi informasi rohani yang bersumber dari misteri salib. Dengan demikian, Santo Longinus dipahami bukan sekedar tokoh historis, melainkan konstruksi spiritual yang memadukan fakta biblis, tradisi, dan refleksi teologis serta berfungsi sebagai model pastoral yang menampilkan teladan pertobatan dan kesaksian iman Kristiani.
SANTO LONGINUS DALAM TRADISI GEREJA: KAJIAN ATAS DIMENSI HISTORIS, TEOLOGIS, DAN DEVOSIONAL Yanto Sandy Tjang; Amandus Suhaedi Dol; Laurentius Prasetyo; Felisitas Yuswanto
Jurnal Reinha Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i2.485

Abstract

Penelitian ini menganalisis figur Santo Longinus melalui pendekatan multidisipliner yang mencakup dimensi historis, teologis, hagiografis, dan devosional. Meskipun narasi Injil hanya menyebut seorang prajurit dan centurion tanpa identitas personal dalam kisah sengsara, tradisi Gereja kemudian mengembangkan sosok “Longinus” sebagai saksi penyaliban yang mengalami pertobatan dan akhirnya dihormati sebagai santo. Kajian ini menunjukkan bahwa konstruksi figur Santo Longinus terbentuk melalui interaksi antara teks kanonik, tradisi apokrif, elaborasi hagiografis, serta penerimaan liturgis dan devosional dalam Gereja Timur dan Barat. Secara teologis, tindakan penusukan lambung Kristus dipahami sebagai momen pewahyuan misteri keselamatan, terutama melalui simbolisme darah-air yang sejak tradisi patristik dikaitkan dengan sakramen Baptisan dan Ekaristi serta gagasan Gereja yang lahir dari sisi Kristus. Dari perspektif historis–kultural, perkembangan legenda, ikonografi, dan devosi, termasuk venerasi relikui Holy Lance, memperlihatkan bagaimana memori kolektif Gereja membentuk identitas spiritual umat melalui figur Santo Longinus. Analisis kritis penelitian menegaskan bahwa signifikansi Santo Longinus tidak terletak pada kepastian historis, melainkan pada  daya  simbolisnya   sebagai  teladan  pertobatan, saksi iman dan representasi informasi rohani yang bersumber dari misteri salib. Dengan demikian, Santo Longinus dipahami bukan sekedar tokoh historis, melainkan konstruksi spiritual yang memadukan fakta biblis, tradisi, dan refleksi teologis serta berfungsi sebagai model pastoral yang menampilkan teladan pertobatan dan kesaksian iman Kristiani.
Roti Hidup dalam Injil Yohanes: Simbolik-Sakramental tentang Pewahyuan Kristus dan Ekaristi Amandus Suhaedi Dol; Laurentius Prasetyo; Yanto Sandy Tjang
JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Kebudayaan dan Agama
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jipa.v4i3.1912

Abstract

The study examines the symbolic meaning of the “Bread of Life” in John 6 through an exegetical-theological approach, using intertextual and narrative-semiotic perspectives. It uncovers the dynamics of Johannine Christological revelation, which moves from miracle as sign, through theological discourse, and culminates in the sacramental understanding of the Eucharist. The Gospel of John is read as a text that employs symbolism and patterns of misunderstanding to lead readers from a literal reading toward deeper faith in Jesus as the source of true life. In this framework, the “Bread of Life” functions not merely as metaphor but as a revelatory symbol integrating Christological, soteriological, and ecclesiological dimensions. Findings show that this symbol is rooted in Old Testament motifs such as manna, Exodus, and wisdom, reinterpreted Christologically in Jesus. The feeding miracle points beyond physical sustenance to divine revelation, culminating in the statement “I am the Bread of Life.” John 6:51b–58 intensifies this sacramental meaning, forming the basis for Eucharistic theology, where participation in Christ’s body and blood signifies existential communion with God. The study concludes that John integrates Christology and sacramental theology, portraying faith as movement from sign to reality, recognition to participation, and revelation to communion with Christ.
SEMANGAT KEBANGSAAN KAUM RELIGIUS KATOLIK SEBAGAI UPAYA KONTRA-RADIKALISME AGAMA DI MASYARAKAT PLURAL KOTA PONTIANAK Maria Magdalena Husun; Yanto Sandy Tjang; Amandus Suhaedi Dol; Felisitas Yuswanto
IN VERITATE LUX Vol 9 No 1 (2026): IN VERITATE LUX: Jurnal Ilmu Kateketik Pastoral Teologi, Pendidikan, Antropologi,
Publisher : STP St. Bonaventura Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63037/ivl.v9i1.186

Abstract

Religious radicalism is a multidimensional phenomenon arising from the complex interaction of theological, social, political, economic, and educational factors. In pluralistic societies such as Pontianak, radicalism has the potential to disrupt social cohesion if not addressed through a comprehensive approach that integrates faith, ethics, and social practice. This study aims to analyze how Catholic monks and nuns internalize and actualize the spirit of nationalism as a counter-radicalism strategy, while also understanding the meaning of Church teachings in the context of diversity, democracy, and respect for human dignity. Using a qualitative approach, data were collected through in-depth interviews with religious figures across several parishes of the Archdiocese of Pontianak and analyzed thematically. The findings indicate that radicalism prevention is carried out through enlightening Catholic religious education, interfaith dialogue, the reinforcement of tolerance values, respect for human dignity, development of critical thinking, and active engagement in diverse communities. The implementation of the spirit of nationalism not only strengthens loyalty to the state but also affirms the Gospel’s call to live in fraternity, solidarity, and justice. Accordingly, monks and nuns serve as agents of social transformation, embodying Gospel values while enhancing cohesion and peace in pluralistic societies.