Penelitian ini menganalisis figur Santo Longinus melalui pendekatan multidisipliner yang mencakup dimensi historis, teologis, hagiografis, dan devosional. Meskipun narasi Injil hanya menyebut seorang prajurit dan centurion tanpa identitas personal dalam kisah sengsara, tradisi Gereja kemudian mengembangkan sosok “Longinus” sebagai saksi penyaliban yang mengalami pertobatan dan akhirnya dihormati sebagai santo. Kajian ini menunjukkan bahwa konstruksi figur Santo Longinus terbentuk melalui interaksi antara teks kanonik, tradisi apokrif, elaborasi hagiografis, serta penerimaan liturgis dan devosional dalam Gereja Timur dan Barat. Secara teologis, tindakan penusukan lambung Kristus dipahami sebagai momen pewahyuan misteri keselamatan, terutama melalui simbolisme darah-air yang sejak tradisi patristik dikaitkan dengan sakramen Baptisan dan Ekaristi serta gagasan Gereja yang lahir dari sisi Kristus. Dari perspektif historis–kultural, perkembangan legenda, ikonografi, dan devosi, termasuk venerasi relikui Holy Lance, memperlihatkan bagaimana memori kolektif Gereja membentuk identitas spiritual umat melalui figur Santo Longinus. Analisis kritis penelitian menegaskan bahwa signifikansi Santo Longinus tidak terletak pada kepastian historis, melainkan pada daya simbolisnya sebagai teladan pertobatan, saksi iman dan representasi informasi rohani yang bersumber dari misteri salib. Dengan demikian, Santo Longinus dipahami bukan sekedar tokoh historis, melainkan konstruksi spiritual yang memadukan fakta biblis, tradisi, dan refleksi teologis serta berfungsi sebagai model pastoral yang menampilkan teladan pertobatan dan kesaksian iman Kristiani.
Copyrights © 2025