Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tinjauan Literatur Tentang Penerapan Standar Pengendalian Mutu Obat Di RS Pemerintah Defrika Muharani; Yorismanto Yorismanto; Budi Hartono; Alfani Ghutsa Daud
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.6284

Abstract

Pelayanan kefarmasian di rumah sakit pemerintah memegang peran strategis dalam menjamin mutu, efektivitas, dan keselamatan terapi obat bagi pasien, khususnya dalam kerangka penyelenggaraan sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Penerapan standar pengendalian mutu obat sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016 menjadi landasan utama dalam memastikan bahwa seluruh obat yang digunakan memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu selama proses pengadaan, penyimpanan, distribusi, hingga penggunaan. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis penerapan standar pengendalian mutu obat di rumah sakit pemerintah berdasarkan temuan-temuan penelitian sebelumnya, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan dalam implementasinya. Metode penelitian yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan menelaah artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan, yang diperoleh melalui basis data elektronik menggunakan kata kunci terkait pengendalian mutu obat, pelayanan kefarmasian rumah sakit pemerintah, dan kepatuhan terhadap regulasi. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan terhadap standar pengendalian mutu obat masih bervariasi antar rumah sakit. Rumah sakit rujukan nasional umumnya menunjukkan tingkat implementasi yang lebih baik dibandingkan rumah sakit daerah, terutama pada aspek pelayanan farmasi klinik, manajemen rantai dingin, pengelolaan logistik, serta pemanfaatan sistem informasi farmasi. Tantangan utama yang diidentifikasi meliputi keterbatasan sumber daya manusia, kurang optimalnya pemantauan suhu berbasis teknologi, lemahnya sistem dokumentasi, serta hambatan dalam rantai pasok obat. Kesimpulan dari tinjauan ini menegaskan bahwa penguatan komitmen manajemen, peningkatan kompetensi tenaga kefarmasian, serta optimalisasi pemanfaatan teknologi digital merupakan faktor kunci dalam meningkatkan efektivitas pengendalian mutu obat di rumah sakit pemerintah.
Strategi Peningkatan Mutu Pelayanan Farmasi Rawat Jalan Melalui Analisis SWOT Menggunakan Matriks IFAS Dan EFAS Di RS X Kota Pekanbaru Defrika Muharani; Herniwanti Herniwanti
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.6450

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menganalisis kualitas layanan farmasi rawat jalan, khususnya layanan obat anak, di RS X Kota Pekanbaru menggunakan pendekatan analisis SWOT. Latar belakang penelitian didasarkan pada meningkatnya tuntutan mutu pelayanan kesehatan, keselamatan pasien, serta kebutuhan layanan farmasi yang cepat, tepat, dan berorientasi pada pasien anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan mengidentifikasi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) melalui observasi lapangan, wawancara terbatas dengan petugas farmasi, tinjauan dokumen, serta penilaian proses alur layanan. Matriks IFAS dan EFAS digunakan untuk menentukan posisi strategis layanan farmasi rumah sakit dan merumuskan alternatif strategi pengembangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa rumah sakit berada di Kuadran III (Kelemahan–Peluang), yang mengindikasikan bahwa meskipun terdapat peluang eksternal yang signifikan seperti dukungan kebijakan kesehatan, perkembangan teknologi informasi farmasi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap layanan berkualitas, kelemahan internal masih menghambat kinerja layanan. Kelemahan utama meliputi waktu tunggu yang lama untuk obat racikan anak, keterbatasan sumber daya manusia farmasi, serta fasilitas peracikan yang kurang optimal. Oleh karena itu, strategi yang paling tepat adalah strategi WO, yang berfokus pada pemanfaatan peluang eksternal untuk mengatasi kelemahan internal. Perbaikan seperti pembentukan alur layanan obat anak khusus, optimalisasi dan pelatihan sumber daya manusia, peningkatan fasilitas peracikan, serta penguatan penggunaan sistem informasi rumah sakit diharapkan dapat meningkatkan efisiensi layanan.
Fenomena “Double Entry”: Dampak Ketidaksiapan Interoperabilitas SIMRS dengan Aplikasi SatuSehat Defrika Muharani; Primaceria Amri; Regi Faula Sari; Budi Hartono
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7951

Abstract

Fenomena double entry dalam sistem informasi rumah sakit menjadi salah satu tantangan utama dalam implementasi digitalisasi layanan kesehatan di Indonesia, khususnya setelah diterapkannya integrasi dengan aplikasi SatuSehat. Ketidaksiapan interoperabilitas antara Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dengan platform nasional tersebut menyebabkan tenaga kesehatan harus melakukan pencatatan data secara ganda, yang berpotensi menurunkan efisiensi kerja, meningkatkan beban administratif, serta memicu risiko kesalahan data. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak fenomena double entry serta mengidentifikasi faktor penyebab ketidaksiapan interoperabilitas antara SIMRS dan aplikasi SatuSehat. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif dan sistematis terhadap berbagai jurnal nasional dan internasional yang relevan dalam rentang tahun 2015–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa fenomena double entry dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu perbedaan standar data, keterbatasan infrastruktur teknologi, kurangnya kesiapan sumber daya manusia, serta belum optimalnya regulasi dan implementasi interoperabilitas sistem. Dampak yang ditimbulkan meliputi penurunan efisiensi pelayanan, peningkatan waktu kerja tenaga kesehatan, serta potensi ketidakkonsistenan data pasien. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa interoperabilitas yang belum optimal antara SIMRS dan SatuSehat menjadi penyebab utama terjadinya double entry yang berdampak signifikan terhadap kualitas layanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya strategis berupa standarisasi data, penguatan infrastruktur teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta dukungan kebijakan yang lebih terintegrasi.