Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Analisis Deskriptif Proses Data to Information dalam Mendukung Pengambilan Keputusan di Fasilitas Kesehatan Regi Faula Sari; Defrika Muharani; Primacaeria Amri; Budi Hartono
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8344

Abstract

Transformasi data menjadi informasi merupakan komponen krusial dalam sistem informasi kesehatan yang berperan penting dalam mendukung pengambilan keputusan di fasilitas pelayanan kesehatan. Ketersediaan data yang melimpah tidak secara otomatis menghasilkan keputusan yang tepat apabila tidak diolah secara sistematis, akurat, dan berkualitas. Permasalahan yang sering dihadapi dalam proses ini meliputi data yang tidak lengkap, inkonsistensi pencatatan, keterlambatan pelaporan, serta rendahnya pemanfaatan informasi dalam proses manajerial dan klinis. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan data dan pemanfaatannya sebagai dasar pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi data menjadi informasi (data to information) dalam mendukung pengambilan keputusan, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas proses tersebut. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif terhadap berbagai jurnal nasional dan internasional yang diterbitkan dalam rentang tahun 2016 hingga 2026. Analisis difokuskan pada aspek kualitas data, proses pengolahan data, serta tingkat pemanfaatan informasi dalam pengambilan keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas proses data to information sangat dipengaruhi oleh kualitas data yang dihasilkan, kompetensi sumber daya manusia dalam mengelola data, serta dukungan sistem informasi yang memadai. Proses yang optimal mencakup tahapan persiapan, pelaksanaan, hingga pemanfaatan informasi secara menyeluruh. Keterbatasan pada salah satu tahapan tersebut dapat menghasilkan informasi yang kurang akurat, sehingga berdampak pada kualitas keputusan dan kinerja fasilitas kesehatan. Kesimpulannya, diperlukan penguatan sistem informasi kesehatan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penerapan pengelolaan data yang terstruktur dan berkelanjutan guna mendukung pengambilan keputusan berbasis informasi yang akurat dan tepat waktu.
Analisis Permintaan Terinduksi (Supplier-Induced Demand) pada Layanan Persalinan Sesar di Indonesia Defrika Muharani; Regi Faula Sari; Primacaeria Amri; Budi Hartono
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8510

Abstract

Peningkatan angka persalinan sesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian penting dalam sistem pelayanan kesehatan, terutama terkait kemungkinan terjadinya fenomena supplier-induced demand (SID). Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana penyedia layanan kesehatan berpotensi memengaruhi keputusan klinis pasien untuk meningkatkan penggunaan layanan tertentu, termasuk tindakan operasi sesar, yang tidak selalu didasarkan pada indikasi medis yang kuat. Tingginya angka persalinan sesar yang melampaui rekomendasi organisasi kesehatan internasional menimbulkan kekhawatiran terhadap efisiensi pembiayaan kesehatan serta keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena supplier-induced demand pada layanan persalinan sesar di Indonesia serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif dan sistematis terhadap berbagai jurnal nasional dan internasional yang relevan dalam rentang tahun 2015–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan angka persalinan sesar tidak hanya terjadi secara signifikan, tetapi juga berpotensi mencakup tindakan yang tidak sesuai indikasi medis, dengan estimasi global mencapai 30–50% di beberapa negara. Kondisi ini berdampak pada peningkatan risiko komplikasi bagi ibu dan bayi serta pemborosan biaya kesehatan.Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa fenomena supplier-induced demand berpotensi terjadi dalam layanan persalinan sesar di Indonesia dan memerlukan penanganan yang komprehensif. Oleh karena itu, diperlukan penguatan peran stakeholder, termasuk pemerintah, dinas kesehatan, lembaga akreditasi, dan rumah sakit dalam mengendalikan praktik layanan melalui regulasi, pengawasan, audit klinis, serta peningkatan edukasi pasien.
Evaluasi Perbandingan Unit Cost Rumah Sakit dan Tarif Indonesia Case Based Groups pada Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Regi Faula Sari; Defrika Muharani; Primacaeria Amri; Budi Hartono
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8511

Abstract

Pelayanan kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu prioritas utama dalam sistem kesehatan, yang memerlukan pembiayaan yang efisien dan berkelanjutan. Dalam implementasinya, rumah sakit menggunakan perhitungan unit cost sebagai dasar untuk mengetahui perhitungan unit cost sebagai dasar untuk mengetahui biaya riil pelayanan, sementara pemerintah menetapkan tarif melalui sistem Indonesia Case Based Groups (INA-CBGs). Perbedaan antara unit cost dan tarif INA-CBGs sering menjadi permasalahan yang berdampak pada efisiensi pembiayaan dan keberlanjutan layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbandingan antara unit cost rumah sakit dan tarif INA-CBGs pada pelayanan kesehatan ibu dan anak. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif terhadap jurnal nasional dan internasional yang dipublikasikan pada tahun 2016–2026. Analisis difokuskan pada kesesuaian biaya riil dengan tarif yang ditetapkan serta implikasinya terhadap kinerja rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, unit cost pelayanan kesehatan ibu dan anak lebih tinggi dibandingkan tarif INA-CBGs, sehingga menyebabkan sebagian rumah sakit memiliki Cost Recovery Rate (CRR) di bawah 100%. Kondisi ini berdampak pada kinerja operasional dan keuangan rumah sakit. Selain itu, diperlukan strategi penyesuaian tarif berbasis biaya riil serta penguatan sistem costing melalui tahapan yang sistematis. Kesimpulannya, penyesuaian tarif INA-CBGs dan peningkatan efisiensi rumah sakit menjadi kunci dalam mencapai keseimbangan antara biaya riil dan pembiayaan layanan kesehatan.
Evaluasi Ekonomi Penggunaan Teknologi Telemedis di Indonesia Primacaeria Amri; Regi Faula Sari; Defrika Muharani; Budi Hartono
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9210

Abstract

Perkembangan teknologi digital mendorong peningkatan penggunaan telemedis sebagai salah satu inovasi pelayanan kesehatan di Indonesia. Telemedis memungkinkan pelayanan kesehatan dilakukan secara jarak jauh sehingga dapat meningkatkan akses layanan, terutama pada daerah dengan keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan. elain memberikan kemudahan akses, penggunaan telemedis juga berpotensi meningkatkan efisiensi biaya pelayanan kesehatan. Namun, implementasi telemedis masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur digital, kesiapan sumber daya manusia, serta perbedaan efektivitas biaya pada berbagai jenis layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aspek ekonomi penggunaan teknologi telemedis di Indonesia melalui pendekatan literature review. Metode yang digunakan adalah narrative review terhadap jurnal nasional dan internasional yang dipublikasikan pada tahun 2016–2026 dengan sumber yang bersifat open access. Analisis difokuskan pada efisiensi biaya, manfaat ekonomi, serta faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas implementasi telemedis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telemedis mampu menurunkan biaya operasional pelayanan, mengurangi biaya transportasi pasien, serta meningkatkan efisiensi administrasi dan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Selain itu, evaluasi ekonomi menggunakan pendekatan Cost-Effectiveness Analysis (CEA) menunjukkan bahwa telemedis lebih efektif pada layanan konsultasi kesehatan primer, monitoring penyakit kronis, dan layanan tindak lanjut pasien. Kesimpulannya, telemedis memiliki potensi ekonomi yang signifikan dalam meningkatkan efisiensi sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, namun memerlukan evaluasi ekonomi berbasis CEA, penguatan infrastruktur digital, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar implementasinya dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Strategi Manajemen Perubahan (Change Management) dalam Tahap Perencanaan SIMRS untuk Meminimalkan Resistensi Tenaga Medis Defrika Muharani; Regi Faula Sari; Primacaeria Amri; Budi Hartono
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10095

Abstract

Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan salah satu strategi transformasi digital yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan, efisiensi operasional, dan pengelolaan data kesehatan. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa resistensi tenaga medis dan tenaga kesehatan masih menjadi salah satu faktor utama yang menghambat keberhasilan implementasi SIMRS. Beberapa studi melaporkan bahwa sekitar 30–60% tenaga kesehatan menunjukkan berbagai bentuk resistensi pada tahap awal implementasi sistem informasi kesehatan, seperti penolakan penggunaan sistem, ketidakpatuhan terhadap prosedur baru, kecemasan terhadap perubahan alur kerja, serta rendahnya partisipasi dalam proses implementasi (Boonstra & Broekhuis, 2010; Ajami & Arab-Chadegani, 2013). Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya strategi manajemen perubahan sejak tahap perencanaan SIMRS. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi manajemen perubahan dalam tahap perencanaan SIMRS melalui pendekatan literature review. Metode yang digunakan adalah narrative review terhadap jurnal nasional dan internasional yang dipublikasikan pada tahun 2016–2026 dengan sumber yang bersifat open access. Analisis difokuskan pada faktor penyebab resistensi tenaga medis, strategi manajemen perubahan, serta efektivitas implementasi SIMRS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi tenaga medis muncul dalam bentuk resistensi individu, resistensi teknis, resistensi psikologis, resistensi organisasi, dan resistensi budaya kerja. Strategi yang efektif untuk mengatasi resistensi tersebut meliputi program pendidikan dan pelatihan (diklat), pendampingan pengguna, komunikasi perubahan yang intensif, keterlibatan pengguna sejak tahap perencanaan, serta penguatan kebijakan dan regulasi internal rumah sakit. Kesimpulannya, keberhasilan implementasi SIMRS tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, tetapi juga oleh keberhasilan manajemen perubahan yang mampu mengelola resistensi SDM melalui kombinasi strategi diklat dan non-diklat secara komprehensif.
Analisis Penerapan Metode Dashboard Business Intelligence untuk Monitoring Kinerja Eksekutif Rumah Sakit di Indonesia: Literature Review Primacaeria Amri; Defrika Muharani; Regi Faula Sari; Budi Hartono
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10479

Abstract

Implementasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menuntut rumah sakit untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan melalui pengambilan keputusan yang cepat dan berbasis data. Namun, pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) di Indonesia masih didominasi fungsi administratif sehingga menyebabkan terjadinya sekat data (data silos) yang menghambat integrasi informasi dan proses pengambilan keputusan manajerial. Business Intelligence (BI) melalui dashboard interaktif menjadi salah satu solusi yang mampu mengintegrasikan berbagai sumber data menjadi informasi yang mudah dipahami dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan dashboard Business Intelligence dalam meningkatkan efektivitas pelaporan dan pengambilan keputusan manajerial di rumah sakit Indonesia. Metode yang digunakan adalah literature review sistematis. Hasil kajian menunjukkan bahwa dashboard BI mampu meningkatkan efisiensi operasional, mendukung pemantauan indikator mutu secara real-time, mempercepat pengelolaan klaim BPJS Kesehatan, serta membantu perencanaan sumber daya melalui analitik prediktif. Arsitektur BI yang umum digunakan terdiri atas lapisan sumber data, data warehouse, dan dashboard visualisasi. Meskipun demikian, implementasi dashboard BI masih menghadapi berbagai tantangan, terutama rendahnya interoperabilitas sistem informasi kesehatan, kualitas data yang belum optimal, keterbatasan sumber daya manusia, serta tingginya biaya investasi teknologi. Keberhasilan implementasi dashboard BI sangat dipengaruhi oleh dukungan manajemen, kualitas infrastruktur data, dan budaya organisasi yang mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Analisis Kapitalisasi Aset Digital terhadap Efisiensi Operasional dalam Neraca Keuangan Rumah Sakit Defrika Muharani; Regi Faula Sari; Primacaeria Amri; Budi Hartono
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10835

Abstract

Transformasi digital di sektor kesehatan mendorong rumah sakit untuk meningkatkan investasi pada berbagai aset digital, seperti Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), Electronic Medical Record (EMR), cloud computing, perangkat lunak akuntansi, dan infrastruktur teknologi informasi. Investasi tersebut tidak hanya mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, tetapi juga memengaruhi struktur laporan keuangan melalui proses kapitalisasi aset digital sebagai aset tidak berwujud. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kapitalisasi aset digital terhadap efisiensi operasional dalam neraca keuangan rumah sakit melalui pendekatan literature review. Metode yang digunakan adalah narrative review terhadap jurnal nasional dan internasional yang dipublikasikan pada tahun 2016–2026 dan tersedia dalam akses terbuka. Analisis difokuskan pada hubungan antara kapitalisasi aset digital, efisiensi operasional, dan kinerja keuangan rumah sakit. Hasil kajian menunjukkan bahwa kapitalisasi aset digital berkontribusi terhadap peningkatan efisiensi operasional melalui percepatan proses administrasi, integrasi data pelayanan, peningkatan akurasi pelaporan keuangan, serta optimalisasi penggunaan sumber daya rumah sakit. Implementasi aset digital yang dikapitalisasi dilaporkan mampu menurunkan biaya administrasi operasional, meningkatkan efisiensi proses kerja, dan mempercepat layanan administratif dibandingkan sistem konvensional. Aset digital yang paling banyak dikapitalisasi meliputi SIMRS, EMR, sistem informasi farmasi, aplikasi telemedicine, dan infrastruktur cloud computing. Selain mendukung penyajian laporan keuangan yang lebih baik, pengelolaan aset digital secara efektif juga berperan dalam meningkatkan produktivitas organisasi dan mendukung keberlanjutan keuangan rumah sakit di era transformasi digital.
Integrasi HRIS dengan Sistem Kredensial dan Manajemen Kompetensi Tenaga Medis dalam Mendukung Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia Regi Faula Sari; Primacaeria Amri; Defrika Muharani; Budi Hartono
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11049

Abstract

Integrasi sistem informasi sumber daya manusia (Human Resource Information System/HRIS) dengan sistem kredensial dan manajemen kompetensi tenaga medis menjadi elemen penting dalam meningkatkan mutu layanan rumah sakit dan mendukung proses akreditasi. Di Indonesia, tuntutan akreditasi rumah sakit yang semakin ketat dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan standar nasional kesehatan mendorong perlunya sistem pengelolaan tenaga medis yang lebih terstruktur, terukur, dan berbasis data. Namun, banyak rumah sakit masih menghadapi tantangan berupa fragmentasi sistem informasi, belum optimalnya integrasi data kompetensi, serta lemahnya monitoring kredensial tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi HRIS dengan sistem kredensial dan manajemen kompetensi tenaga medis dalam mendukung akreditasi rumah sakit di Indonesia melalui pendekatan literature review. Metode yang digunakan adalah narrative review terhadap 25 artikel ilmiah nasional dan internasional yang dipublikasikan pada periode 2016–2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat berbagai permasalahan dalam pengelolaan kompetensi tenaga medis di rumah sakit, terutama terkait dokumentasi kompetensi, pemantauan sertifikasi profesi, dan integrasi data SDM. Integrasi HRIS dengan sistem kredensial dan manajemen kompetensi terbukti mampu meningkatkan akurasi data, mempercepat proses kredensial, serta mendukung pemenuhan standar akreditasi rumah sakit. Implementasi integrasi dilakukan melalui tahapan standardisasi data SDM, integrasi kredensial, integrasi manajemen kompetensi, dan pemanfaatan data untuk mendukung akreditasi rumah sakit. Kesimpulannya, integrasi HRIS menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan tata kelola SDM dan memperkuat kesiapan rumah sakit menghadapi proses akreditasi.
Sintesis Teori Cost-Shifting dalam Penarifan Pasien Umum sebagai Kompensasi Tarif JKN di Rumah Sakit: Sebuah Tinjauan Pustaka Regi Faula Sari; Defrika Muharani; Primacaeria Amri; Budi Hartono
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.12098

Abstract

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, namun di sisi lain menimbulkan tantangan finansial bagi rumah sakit akibat adanya perbedaan antara biaya riil pelayanan dengan tarif pembayaran berbasis Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs). Kondisi tersebut mendorong rumah sakit menerapkan berbagai strategi untuk menjaga keberlanjutan keuangan, salah satunya melalui praktik cost-shifting, yaitu penyesuaian tarif pasien umum sebagai kompensasi terhadap keterbatasan tarif JKN. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis teori dan temuan empiris mengenai praktik cost-shifting dalam penarifan pasien umum sebagai bentuk kompensasi tarif JKN di rumah sakit. Metode penelitian menggunakan literature review dengan menelaah berbagai artikel ilmiah nasional dan internasional, buku akademik, serta dokumen kebijakan yang dipublikasikan pada periode 2015–2025. Hasil telaah menunjukkan bahwa praktik cost-shifting dipengaruhi oleh selisih antara tarif INA-CBGs dan biaya riil pelayanan, struktur pasar pelayanan kesehatan, daya tawar rumah sakit, serta kemampuan masyarakat dalam membayar pelayanan kesehatan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa strategi ini dapat meningkatkan Cost Recovery Rate (CRR) dan membantu menjaga keberlanjutan finansial rumah sakit apabila diterapkan secara proporsional dan didukung oleh analisis biaya yang akurat. Namun demikian, efektivitasnya dipengaruhi oleh karakteristik pasar, komposisi pasien, serta kemampuan rumah sakit dalam melakukan efisiensi operasional. Kesimpulannya, cost-shifting merupakan salah satu strategi adaptif yang dapat digunakan rumah sakit dalam menghadapi keterbatasan tarif JKN, tetapi penerapannya perlu diimbangi dengan efisiensi operasional, analisis biaya yang akurat, serta kebijakan penetapan tarif yang transparan agar keberlanjutan pelayanan kesehatan tetap terjaga.
Analisis Efisiensi Biaya Logistik Farmasi terhadap Optimalisasi Laba Rugi dan Arus Kas Rumah Sakit Regi Faula Sari; Defrika Muharani; Primacaeria Amri; Budi Hartono
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.12357

Abstract

Manajemen logistik farmasi merupakan komponen penting dalam pengelolaan rumah sakit karena menyerap proporsi biaya operasional yang besar dan berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Pengelolaan logistik yang tidak efisien dapat menyebabkan peningkatan biaya persediaan, obat kedaluwarsa, dead stock, stock out, serta terganggunya arus kas rumah sakit. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan laba operasional dan efisiensi pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh efisiensi biaya logistik farmasi terhadap optimalisasi laba rugi dan arus kas rumah sakit melalui pendekatan literature review. Metode yang digunakan adalah narrative review terhadap artikel ilmiah nasional dan internasional yang dipublikasikan pada periode 2016–2026. Analisis difokuskan pada penelitian mengenai pengelolaan logistik farmasi, manajemen persediaan, efisiensi biaya operasional, profitabilitas, dan pengelolaan arus kas rumah sakit. Hasil telaah menunjukkan bahwa penerapan strategi efisiensi logistik farmasi melalui pengendalian persediaan, digitalisasi sistem informasi, serta optimalisasi proses pengadaan mampu menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya. Penghematan biaya tersebut dapat dialokasikan untuk pengembangan layanan, investasi fasilitas, dan peningkatan produktivitas sehingga mendukung peningkatan pendapatan rumah sakit. Selain itu, efisiensi logistik berkontribusi terhadap peningkatan laba operasional melalui penurunan beban biaya serta memperbaiki arus kas dengan meningkatkan perputaran persediaan dan likuiditas. Dengan demikian, efisiensi biaya logistik farmasi berperan strategis dalam meningkatkan kinerja keuangan rumah sakit sekaligus mendukung keberlanjutan pelayanan kesehatan melalui pengelolaan logistik yang terintegrasi, berbasis data, efektif, dan berorientasi pada peningkatan nilai organisasi.