Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TAKTIK ILMU POLITIK KOMPENI BELANDA SEBAGAI USAHA MEMPENGARUHI PAKUBUWANA IV KERATON SURAKARTA PADA BABAD PAKEPUNG Adhimas Hayyun Pradhipa; Mohamad Juniawan Saputra
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 2 (2026): April: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i2.9700

Abstract

The Babad Pakepung manuscript is a manuscript that contains information about the Surakarta Palace, starting from the beginning of the leadership of Pakubuwana IV, the war at the Surakarta Palace, until the pressure of the Surakarta Palace. This article discusses the political science tactics of the Dutch Company as an attempt to influence Pakubuwana IV Keraton Surakarta in Babad Pakepung. The formulation of the problem raised is (1) What was the form of political science tactics of the Dutch Company in an effort to influence Pakubuwana IV Keraton Surakarta on Babad Pakepung? And (2) How did the Dutch Company's political science tactics influence the Surakarta Palace? Based on the problem formulation, the aim of this research is to describe the political science tactics used by the Dutch Company in influencing Pakubuwana IV who was reigning at the Surakarta Palace in the Babad Pakepung. The research method used is a descriptive qualitative method with a philological theory approach, postcolonialism theory, and Erdward Spranger's personality psychology theory. It is felt that the chosen theory makes it easier to carry out research to answer existing problems. The results of this research are that the political science tactic divide et impera has a greater influence than sending letters containing seduction. The impact was internal conflict within the Surakarta Palace because the deliberations that took place did not find a solution.
Pengenalan Sastra Jawa Geguritan Kepada Mahasiswa Sastra Melayu di Universitas Islam Antarabangsa Malaysia Rizky Malinda Fitri; Dea Ananda Saputri; Putri Larasati; Icha Maharani Putri Hertanto; Ellyana Dwi Randyany; Mohamad Juniawan Saputra; Octo Dendy Andriyanto; Danang Wijoyanto; Sukarman Sukarman; Darni Darni; Yohan Susilo; Muhammad Danial Afham Zailan
ABISATYA : Journal of Community Engagement Vol. 3 No. 1 (2025): ABISATYA: Journal of Community Engagement
Publisher : Center for Community Service and Science and Technology Marketing - The Institute for Research and Community Service Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/abisatya.v3i1.38682

Abstract

Pembelajaran sastra sangat penting untuk dipelajari oleh mahasiswa khususnya jurusan sastra. Setiap sastra memiliki unsur keunikan yang membuat sastra tersebut memiliki perbedaan dengan sastra lainnya. Geguritan dan gurindam merupakan bentuk dari Sastra Jawa dan Sastra Melayu. Geguritan dan gurindam merupakan sastra yang berwujud puisi. Oleh karena itu mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa membuat kelas Sastra Jawa geguritan sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Sasaran kegiatan ini yaitu mahasiswa jurusan Sastra Melayu Universitas Islam Antarbangsa Malaysia sejumlah 50 orang. Kegiatan ini bertujuan 1) memperkenalkan Sastra Jawa geguritan kepada mahasiswa Jurusan Sastra Melayu Universitas Islam Antarbangsa Malaysia, 2) Membedah perbedaan Sastra Jawa geguritan dan Sastra Melayu gurindam di Universitas Islam Antarbangsa Malaysia, 3) pertukaran ilmu antara mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Unesa dengan mahasiswa Jurusan Sastra Melayu Universitas Islam Antarbangsa Malaysia 4) memperkaya ilmu pengetahuan pada bidang sastra. Metode yang digunakan pada kegiatan ini yaitu Empowerment Based Collaboration (EBC). Tahapan kegiatan perencanaan dan pengoordinasian dengan pihak terlibat, fasilitasi dialog yang setara, identifikasi kebutuhan dan potensi, pembuatan rencana aksi bersama. Hasil dari kegiatan pengabdian ini ditemukan persamaan dan perbedaan pada geguritan dan gurindam. Persamaan dari geguritan dan gurindam yaitu sama-sama bentuk dari puisi, memiliki dua jenis dan tema yang bebas. Perbedaan gurindam dan guritan tertelak pada bahasa dan pola penulisan.