p-Index From 2021 - 2026
1.827
P-Index
This Author published in this journals
All Journal 'ADALAH
Abu Nawas
Universitas Dharma Indonesia (UNDHI)

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Efektivitas Tindakan Preventif Dan Persuasive Babinkantibmas Dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika Di Kecamatan Pakuhaji Ditinjau Dari Perspektif Kepolisian Tarsin Tarsin; Abu Nawas; Rasman Habeahan; Indrayanto Indrayanto
BULETIN ADALAH Vol. 9 No. 3 (2025)
Publisher : UIN Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/adalah.v9i3.50742

Abstract

Penelitian ini menganalisis efektivitas tindakan preventif dan persuasif Bhabinkamtibmas dalam penanggulangan penyalahgunaan narkotika di Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, serta mengidentifikasi faktor-faktor penghambatnya. Pendekatan yang digunakan adalah yuridis empiris dengan metode penelitian kualitatif deskriptif eksploratif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, aparat pemerintah, dan pemangku kepentingan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan preventif dan persuasif Bhabinkamtibmas di Kecamatan Pakuhaji efektif dalam membangun ketahanan sosial terhadap bahaya narkotika. Efektivitas tersebut tercermin dari tiga indikator utama: pertama, meningkatnya kepercayaan masyarakat yang ditandai dengan partisipasi aktif warga melaporkan aktivitas mencurigakan; kedua, keberhasilan pendekatan personal persuasif dalam mendorong korban penyalahguna narkotika menjalani rehabilitasi sesuai amanat Pasal 54 dan 55 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009; ketiga, efektivitas peran mediasi dalam mencegah eskalasi konflik horizontal dan tindakan main hakim sendiri. Ditinjau dari perspektif hukum kepolisian, tindakan tersebut telah sesuai dengan kewenangan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, khususnya Pasal 13, Pasal 14 ayat (1) huruf g, dan Pasal 15 ayat (2) huruf c tentang diskresi kepolisian. Namun, optimalisasi tugas Bhabinkamtibmas menghadapi hambatan internal (keterbatasan personel dan beban administrasi) serta hambatan eksternal (kultur masyarakat tertutup, modus operandi jaringan narkoba yang canggih, dan masalah sosial-ekonomi). Hambatan tersebut membentuk lingkaran setan yang saling menguatkan. Penelitian ini merekomendasikan pemenuhan rasio personel ideal, reformasi sistem administrasi berbasis teknologi, penguatan forum kemitraan polisi-masyarakat, serta program pemberdayaan ekonomi bagi warga rentan.   Kata Kunci: Efektivitas Hukum, Tindakan Preventif, Tindakan Persuasif, Bhabinkamtibmas, Penanggulangan Narkotika, Community Policing, Kecamatan Pakuhaji.
Analisis Yuridis Konflik Kewenangan Kepolisian Republik Indonesia Dengan Badan Narkotika Nasional Dalam Penanganan Tindak Pidana Narkotika di Indonesia Achmad Ficry; Abu Nawas; Rasman Habeahan; Indrayanto Indrayanto
BULETIN ADALAH Vol. 9 No. 3 (2025)
Publisher : UIN Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/adalah.v9i3.50743

Abstract

Penelitian ini menganalisis dualisme kewenangan penyidikan tindak pidana narkotika antara Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) serta implikasi yuridisnya terhadap efektivitas penegakan hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif yang diperkaya dengan data empiris melalui wawancara mendalam dengan aparat penegak hukum di Polres Tangerang Selatan dan BNN Provinsi Banten, serta kajian putusan pengadilan dan peraturan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dualisme kewenangan bersumber pada konstruksi hukum yang tidak harmonis antara Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri yang memberikan kewenangan umum penyidikan kepada Polri, dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang memberikan kewenangan khusus kepada BNN. Kedua undang-undang tidak mengatur mekanisme koordinasi, hierarki, atau prioritas kewenangan secara tegas, sehingga menciptakan konflik norma horizontal dan tumpang tindih kewenangan. Perbedaan mendasar juga ditemukan dalam batas waktu penangkapan (1×24 jam untuk Polri versus 3×24 jam untuk BNN), yang semakin memperparah ketidakpastian hukum. Implikasi yuridis dualisme ini mencakup ketidakpastian hukum (rechtssicherheit) karena tidak jelasnya lembaga yang berwenang, ketidakadilan (gerechtigkeit) akibat perbedaan prosedural yang berpotensi melanggar prinsip persamaan di hadapan hukum, serta inefisiensi (zweckmäßigkeit) berupa duplikasi sumber daya dan pemborosan anggaran. Penelitian ini menawarkan model harmonisasi kewenangan, yaitu model koordinasi fungsional yang diperkuat dengan mekanisme penugasan bersama sebagai transisi menuju model subsidiaritas. Rekomendasi jangka pendek meliputi pembentukan peraturan bersama antara Kapolri dan Kepala BNN serta forum koordinasi rutin, sedangkan rekomendasi jangka panjang mencakup revisi Undang-Undang Narkotika dengan mengadopsi pendekatan subsidiaritas dan harmonisasi batas waktu penangkapan.  Kata Kunci: Dualisme Kewenangan, Penyidikan Narkotika, Polri, BNN
Perlindungan Hukum Terhadap Hak Pekerja Atas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Sepihak Oleh Pengusaha Di Kabupaten Serang Agus Muhindar; Abu Nawas; Rasman Habeahan; Indrayanto Indrayanto
BULETIN ADALAH Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/adalah.v1i3.50744

Abstract

  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum terhadap hak pekerja atas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak oleh pengusaha di Kabupaten Serang serta mengkaji upaya hukum yang ditempuh pekerja dalam memperjuangkan hak-haknya. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan sosiologis, melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap pekerja korban PHK sepihak, mediator Dinas Tenaga Kerja, serta pendamping hukum di Kabupaten Serang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum, baik preventif maupun represif, belum berjalan optimal. Perlindungan preventif menghadapi kendala serius karena pengusaha kerap mengabaikan prosedur PHK sebagaimana diatur dalam Pasal 151 UU Ketenagakerjaan, seperti melakukan PHK secara lisan tanpa surat peringatan, menggunakan alasan efisiensi yang tidak transparan, memaksa pekerja mengundurkan diri (forced resignation), serta melakukan PHK dengan motif pemberangusan serikat pekerja (union busting). Selain itu, lemahnya pengawasan ketenagakerjaan akibat keterbatasan jumlah pengawas dan tidak adanya daya paksa dari rekomendasi yang dikeluarkan semakin memperburuk efektivitas perlindungan preventif. Sementara itu, perlindungan represif melalui jalur mediasi dan litigasi juga menghadapi berbagai hambatan. Akses pekerja terhadap keadilan terhambat oleh rendahnya kesadaran hukum pekerja, keterbatasan biaya, serta lemahnya posisi tawar pekerja di hadapan pengusaha. Upaya hukum non-litigasi melalui mediasi di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Serang memiliki tingkat keberhasilan sekitar 60 persen, namun efektivitasnya sangat bergantung pada itikad baik pengusaha karena mediator tidak memiliki kewenangan memaksakan kesepakatan. Sebaliknya, upaya litigasi di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) menghadapi kendala pembuktian dan biaya, meskipun proses peradilan relatif cepat. Dengan demikian, diperlukan penguatan substansi hukum melalui pemberian sanksi tegas bagi perusahaan yang melakukan PHK sepihak, peningkatan kapasitas dan jumlah pengawas ketenagakerjaan, serta optimalisasi peran serikat pekerja dan lembaga bantuan hukum dalam memberikan pendampingan kepada pekerja korban PHK sepihak di Kabupaten Serang.  Kata Kunci: Perlindungan Hukum; PHK Sepihak; Pekerja; Upaya Hukum; Kabupaten Serang
Hak Immunitas Wartawan Dalam Menjalankan Tugas Ditinjau Dari Perspektif UU Pers dan UU Nomor I Tahun 2023 Tentang KUHP Muhlisin Muhlisin; Abu Nawas; Rasman Habeahan; Indrayanto Indrayanto
BULETIN ADALAH Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/adalah.v9i2.50745

Abstract

Penelitian ini mengkaji kesenjangan antara norma perlindungan wartawan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dengan praktik pemidanaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Baru). Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan empiris. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan aparat penegak hukum, wartawan, dan Dewan Pers, serta analisis dokumen kasus dan literatur hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UU Pers memberikan perlindungan melalui definisi kegiatan jurnalistik, jaminan kemerdekaan pers sebagai hak asasi, hak tolak, serta mekanisme penyelesaian sengketa melalui Dewan Pers. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 145/PUU-XXIII/2025 mempertegas bahwa pemidanaan wartawan hanya dapat dilakukan setelah mekanisme Dewan Pers ditempuh. Namun, KUHP Baru memuat ketentuan berpotensi menjerat kerja jurnalistik, seperti delik pencemaran nama baik, berita bohong, penghinaan terhadap pemerintah, serta perluasan alat bukti elektronik yang mengancam hak tolak wartawan. Kesenjangan antara norma dan praktik disebabkan oleh faktor hukum berupa multi-interpretasi norma, pengabaian asas lex specialis derogat legi generali, dan inkonsistensi implementasi nota kesepahaman Dewan Pers dengan aparat penegak hukum. Faktor non-hukum meliputi rendahnya pemahaman aparat tentang UU Pers, tekanan politik dan ekonomi, budaya litigasi masyarakat, lemahnya perlindungan internal perusahaan pers, serta maraknya oknum wartawan tidak profesional. Implikasi kesenjangan ini adalah munculnya chilling effect, menurunnya kualitas informasi publik, melemahnya fungsi kontrol sosial pers, dan kemunduran kualitas demokrasi. Penelitian merekomendasikan penguatan kapasitas aparat penegak hukum, optimalisasi nota kesepahaman Dewan Pers dengan aparat, penguatan perlindungan hukum oleh perusahaan pers, serta harmonisasi peraturan perundang-undangan untuk memastikan UU Pers berfungsi sebagai lex specialis yang efektif melindungi kemerdekaan pers. Kata Kunci: Perlindungan Wartawan, Kriminalisasi Pers, Lex Specialis, KUHP Baru
Efektivitas Cerai Gugat Secara Verstek dalam Penentuan Hak Hadhanah dan Nafkah Anak Pada Pengadilan Agama Serang Banten Budi Bofiola Marpaung; Abu Nawas; Rasman Habeahan; Indrayanto Indrayanto
BULETIN ADALAH Vol. 9 No. 4 (2025)
Publisher : UIN Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/adalah.v9i4.50746

Abstract

Secara normatif, perkara verstek dalam konteks cerai gugat diatur dalam Pasal 116 huruf f Kompilasi Hukum Islam (KHI), yaitu ketika suami meninggalkan istri selama dua tahun berturut-turut tanpa izin dan alasan sah. Dari perspektif hukum acara, kasus verstek menempatkan Pengadilan Agama pada situasi kompleks karena sering berhadapan dengan tergugat (suami) yang absentee tidak hadir atau tidak diketahui keberadaannya. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengkaji efektivitas penerapan ketentuan hukum mengenai hak hadhanah (pemeliharaan anak) dan nafkah anak dalam putusan cerai gugat secara verstek di Pengadilan Agama Serang, Banten; dan 2) mengidentifikasi kendala serta implikasi yuridis dari putusan tersebut terhadap pemenuhan hak anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan socio-legal atau yuridis-empiris. Pendekatan ini dipilih karena tidak hanya menganalisis hukum sebagai norma yang otonom (law in the books), tetapi juga memahami hukum sebagai institusi sosial yang beroperasi dalam konteks empiris (law in action). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan hakim, analisis putusan pengadilan, serta studi dokumen, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas penerapan hukum dalam putusan verstek bersifat parsial. Hak hadhanah efektif secara prosedural karena memberikan kepastian hukum administratif bagi ibu sebagai penggugat, namun lemah secara substansial akibat ketidakhadiran tergugat yang menghalangi penggalian mendalam terhadap kompetensi ibu sebagai pemegang hak asuh. Sementara itu, hak nafkah anak ditemukan tidak efektif, baik dalam penetapan maupun eksekusi. Penetapan nafkah sering dilakukan secara pro justitia tanpa bukti konkret kemampuan ekonomi tergugat, sehingga putusan sulit dijalankan ketika tergugat tidak kooperatif atau tidak memiliki harta yang dapat disita. Ratio decidendi hakim didasarkan pada kepastian hukum dan perlindungan anak, namun terbatas oleh tidak terpenuhinya asas kontradiktif (audi et alteram partem), sehingga berisiko menimbulkan ketidakadilan substantif. Kendala yuridis baik prosedural seperti panggilan tidak sah, maupun materiil seperti norma kabur dan kesulitan eksekusi berdampak signifikan terhadap pemenuhan hak anak, terutama pada hak nafkah yang kerap tidak terealisasi, menjadikan putusan kehilangan daya guna.  Kata Kunci: verstek, hadhanah, nafkah anak, putusan cerai gugat.  
Analisis Yuridis Optimalisasi Limbah Karet Dalam Rantai Bisnis Berdasarkan Prinsip hukum Ekonomi Lingkungan Lasemin Lasemin; Abu Nawas; Rasman Habeahan; Indrayanto Indrayanto
BULETIN ADALAH Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/adalah.v9i2.50798

Abstract

Penelitian ini menganalisis optimalisasi nilai ekonomi limbah karet dalam kerangka pembangunan berkelanjutan melalui perspektif hukum ekonomi lingkungan, dengan studi kasus di Kota Serang, Provinsi Banten. Meskipun kerangka hukum nasional seperti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 telah membuka peluang pemanfaatan limbah B3, implementasinya di tingkat daerah masih menghadapi berbagai kendala. Penelitian sosio-legal ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data primer melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan (regulator, industri, akademisi, masyarakat) dan data sekunder dari studi dokumen peraturan, laporan, serta jurnal ilmiah. Analisis dilakukan secara interaktif menggunakan teori efektivitas hukum Soerjono Soekanto, teori hukum progresif Satjipto Rahardjo, serta konsep ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dari 1.500 ton limbah karet tahunan di Kota Serang, hanya 15% yang termanfaatkan, sementara potensi nilai tambah mencapai Rp. 4,5–7,5 miliar per tahun belum tergarap optimal. Ketidakefektifan ini disebabkan oleh keterbatasan pengawas lingkungan (5 orang untuk 150 perusahaan), minimnya insentif fiskal, rendahnya kesadaran masyarakat, serta dominasi budaya industri linier. Penelitian ini merumuskan strategi terintegrasi yang mencakup penerapan prinsip Extended Producer Responsibility (EPR) melalui Peraturan Daerah, penguatan inspeksi berbasis teknologi (CEMS, citra satelit), pemberian insentif fiskal, fasilitasi pembiayaan hijau, kebijakan pengadaan pemerintah untuk produk daur ulang (aspal karet, material bangunan), serta pengembangan bank sampah digital dan pelatihan kewirausahaan berbasis limbah. Strategi ini diharapkan mampu menyeimbangkan tiga pilar pembangunan berkelanjutan: profit (penghematan biaya 20-30%, pertumbuhan pasar 15-20%), planet (pengurangan limbah ke TPA 30%, penurunan emisi karbon), dan people (penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat Rp200.000-500.000 per bulan). Kata Kunci: optimalisasi limbah karet, strategi hukum ekonomi, pembangunan berkelanjutan, ekonomi sirkular, extended producer responsibility, Kota Serang
Evaluating the Implementation of Government Regulation No. 22 of 2021 on Environmental Protection and Management: A Study of AMDAL Compliance in Sand Mining Nanda Sholihatunnisa; Abu Nawas; Muh Nasir
BULETIN ADALAH Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : UIN Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/adalah.v10i1.50856

Abstract

Poorly managed sand mining activities can lead to environmental degradation, including land degradation, water pollution, and ecosystem disruption. Government Regulation No. 22 of 2021 mandates the preparation of Environmental Impact Assessments (AMDAL) as part of environmental protection and management. This study aims to examine the implementation of this regulation, particularly the AMDAL requirement in sand mining activities in Pancanegara Village, Pabuaran District, Serang Regency. It also analyzes the positive and negative impacts of such activities on the local community. This research employs an empirical juridical method, combining a statutory and field approach. Data were collected through literature review and field research and analyzed qualitatively. The findings reveal that the implementation of the AMDAL requirement under Government Regulation No. 22 of 2021 has not been optimal. Contributing factors include limited supervision by authorities, low awareness among business actors, and administrative challenges in the licensing process. While sand mining contributes to local economic development, it also results in environmental damage, pollution, and social changes within the community. Keywords: Government Regulation No. 22 of 2021, AMDAL, sand mining, environmental protection, law enforcement.
A Juridical Analysis of Rehabilitation Policy as an Alternative to Criminal Punishment for Narcotics Abusers from a Restorative Justice Perspective Syaiful Kurniawan; Abu Nawas; Muh Nasir
BULETIN ADALAH Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : UIN Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/adalah.v10i1.50861

Abstract

Rehabilitation policy as an alternative to criminal punishment for narcotics abusers has a strong juridical foundation and is aligned with the principles of restorative justice. However, its effective implementation requires regulatory harmonization, capacity building of law enforcement officers, and adequate rehabilitation facilities. This study aims to analyze the juridical framework of rehabilitation policies for narcotics abusers from a restorative justice perspective. The main issues addressed are: (1) how medical rehabilitation for drug addicts is implemented in legal practice, and (2) what obstacles hinder its implementation and law enforcement efforts. This research employs a normative juridical method using statutory and conceptual approaches. Legal materials consist of primary sources, including laws and regulations on narcotics and rehabilitation, and secondary sources such as literature, journals, and legal documents. Data were analyzed qualitatively using a descriptive-analytical method. The findings indicate that rehabilitation policies are legally recognized as a form of protection for narcotics abusers, who are essentially victims. Nevertheless, challenges persist, including punitive-oriented perspectives among law enforcement, limited rehabilitation facilities, and suboptimal inter-agency coordination. A restorative justice approach offers a more humane resolution by emphasizing recovery, social reintegration, and the reduction of the negative impacts of imprisonment. Keywords: Rehabilitation, Narcotics Abusers, Alternative Sentencing, Restorative Justice.
Enhancing Enforcement Strategies Against Illegal Fishing: A Socio-Legal Analysis of Water Police Operations in Jakarta Waters under Law No. 45 of 2009 Muharom Muharom; Muh Nasir; Abu Nawas
BULETIN ADALAH Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : UIN Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/adalah.v10i1.50862

Abstract

Illegal fishing remains a persistent challenge in Indonesia, undermining economic sustainability, marine ecosystems, and maritime security. Despite the enactment of Law No. 45 of 2009 on Fisheries, enforcement effectiveness particularly at the operational level remains uneven. This study addresses this gap by examining the strategies employed by the Water and Air Police Directorate (Ditpolair) of Korpolairud Baharkam Polri in combating illegal fishing in the waters of DKI Jakarta. Using a normative-empirical (socio-legal) approach, this research integrates statutory analysis with field data obtained through interviews and observations. The study evaluates enforcement practices, including maritime patrols, vessel monitoring, licensing inspections, and inter-agency coordination. The findings reveal that while current strategies have contributed to suppressing illegal fishing activities, their effectiveness is constrained by structural and operational limitations, including inadequate patrol assets, jurisdictional complexity, and increasingly adaptive criminal networks. This study argues that enforcement remains predominantly reactive and insufficiently supported by integrated surveillance systems and institutional synergy. Strengthening technological capacity, enhancing inter-agency collaboration, and adopting intelligence-led enforcement are critical to improving outcomes. This research contributes to the discourse on fisheries law enforcement by offering a practical and policy-oriented framework to optimize anti-illegal fishing strategies in high-risk maritime zones. Keywords: Illegal Fishing, Law Enforcement Strategy, Water Police, Fisheries Law, Indonesia.
Unlawful Act Claims in Land Auction Disputes: A Juridical Analysis of Court Decision No. 29/Pdt.G/2025/PN Kwg Gunawan Gunawan; Abu Nawas; Muh Nasir
BULETIN ADALAH Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : UIN Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/adalah.v10i1.50863

Abstract

Disputes arising from land auctions frequently involve claims of unlawful acts (perbuatan melawan hukum), particularly where alleged violations of legal rights occur during the auction process. However, not all contested auctions meet the legal threshold for liability under Article 1365 of the Indonesian Civil Code. This study addresses this issue by examining the juridical basis of unlawful act claims and the judicial reasoning applied in Court Decision No. 29/Pdt.G/2025/PN Kwg. This research employs a normative legal method using statutory, case, and conceptual approaches. Legal materials, including primary, secondary, and tertiary sources, are analyzed qualitatively to assess the legal standards governing land auction disputes. The findings demonstrate that unlawful act claims in land auction disputes require the fulfillment of key elements: an unlawful act, fault, damage, and causality. The court, in the examined decision, emphasized both procedural and substantive legality, including the validity of the auction object, the authority of auction officials, and the protection of affected parties. The ruling highlights that compliance with established legal procedures serves as a critical benchmark in determining the absence of unlawful conduct. This study contributes to clarifying the limits of civil liability in auction-related disputes and underscores the importance of legal certainty in auction practices. Keywords: Unlawful Act, Land Auction Dispute, Juridical Analysis, Court Decision, Civil Liability.