Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana lingkungan Pondok Pesantren Al-Hidayah Tenggarong membentuk karakter kepemimpinan santri melalui integrasi budaya asrama, organisasi santri, dan praktik retorika keagamaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap pimpinan pondok, kepala sekolah, pembina asrama, dan Ketua Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Al-Hidayah (OP3), serta diperkuat melalui studi dokumentasi dan kajian literatur relevan. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter kepemimpinan santri berlangsung melalui tiga mekanisme utama. Pertama, ekosistem pesantren yang ditopang oleh sinkronisasi kurikulum ganda, budaya disiplin, keteladanan ustaz, dan sistem asrama membentuk kemandirian, tanggung jawab, serta kemampuan mengelola diri. Kedua, organisasi santri berfungsi sebagai laboratorium kepemimpinan yang memungkinkan santri mengembangkan keterampilan manajerial, pengambilan keputusan, resiliensi, dan kemampuan menyelesaikan konflik melalui pengalaman langsung. Ketiga, praktik retorika melalui kegiatan dakwah, presentasi ilmiah, dan pelatihan kepemimpinan memperkuat kompetensi komunikasi, kepercayaan diri, serta kepemimpinan sosial santri. Temuan ini menunjukkan bahwa pembentukan kepemimpinan di pesantren tidak berlangsung melalui pembelajaran formal semata, melainkan melalui pengalaman hidup kolektif yang terintegrasi dalam budaya lembaga. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model pendidikan karakter kepemimpinan berbasis ekosistem pesantren.