Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman siswa sebagai bystander dalam peristiwa bullying di SMP. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi, dengan pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur terhadap tiga siswa yang pernah menjadi bystander. Tahapan penelitian meliputi deskripsi pengalaman, analisis horizontalization, dan pemaknaan pernyataan dari responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para bystander merasakan ketakutan dan keprihatinan saat menyaksikan bullying, dengan respon yang bervariasi antara aktif dan pasif. Bystander aktif cenderung melaporkan kejadian kepada guru, sementara bystander pasif merasa terintimidasi untuk bertindak. Pembahasan mengungkap pentingnya peran bystander dalam mempengaruhi perilaku bullying, serta perlunya dukungan dari guru dan lingkungan sekolah untuk menciptakan iklim yang lebih aman. Kesimpulannya, pengalaman bystander sangat kompleks dan dipengaruhi oleh hubungan sosial dengan korban dan pelaku. Komitmen dari bystander untuk melaporkan bullying merupakan langkah penting dalam mengurangi kasus bullying di sekolah. Upaya kolaboratif antara siswa, guru, dan orang tua sangat diperlukan untuk memberantas bullying secara efektif.
Copyrights © 2025