Pendahuluan: Katarak adalah penyebab utama gangguan penglihatan, memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk 81% kasus kebutaan di Indonesia, terutama katarak senilis. Miopia, yang sering dikaitkan dengan katarak nuklear, terjadi akibat perubahan indeks bias pada lensa mata yang mengakibatkan "myopic shift" atau miopisasi. Miopisasi dapat memberikan ilusi perbaikan penglihatan dekat ("second-sight"), yang sering menunda diagnosis dan perawatan katarak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidensi dan derajat miopisasi pada pasien katarak senilis di klinik mata Rumah Sakit Atma Jaya (RSAJ), Jakarta. Metode: Penelitian analitik dengan metode potong lintang retrospektif pada 92 sampel mata pasien di klinik mata RSAJ. Pengumpulan data dilakukan melalui rekam medis pasien yang terdiagnosis katarak senilis tipe nuklear dan mengalami miopisasi. Pengambilan data rekam medis dilakukan di RSAJ pada bulan April 2023 – Juli 2023 kemudian dilanjutkan pengolahan data dengan uji Chi-square. Hasil: Penelitian ini menunjukkan insidensi miopisasi pada katarak senilis berjenis nuklear dengan derajat NO3-NO6 sebesar 39,1% dengan derajat miopia ringan terbanyak yaitu 88,1% dan terdapat hubungan bermakna antara derajat miopisasi ringan dengan katarak senilis tipe nuklear (p=<0,001). Hasil analisis data juga menunjukkan tidak terdapat hubungan antara derajat miopisasi sedang dengan katarak senilis tipe nuklear (p=0,056). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara derajat miopisasi ringan dan sedang dengan katarak senilis tipe nuklear pada pasien di klinik mata RSAJ.
Copyrights © 2024