Meskipun Bahasa Indonesia baku menetapkan struktur ideal Subjek-Predikat-Objek (SPO), komunikasi lisan non-formal, khususnya antara pedagang dan pembeli, sering menyimpang dari kaidah tersebut demi efisiensi dan alasan pragmatis. Adanya kesenjangan ini menjadi masalah untuk mengetahui batas toleransi dan keberterimaan manipulasi struktur non-baku tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini merumuskan masalah untuk mengukur dan membandingkan tingkat keberterimaan masing-masing dari tiga manipulasi struktur non-baku SOP, PSO, dan OPS ketika dituturkan secara lisan kepada responden pedagang. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat keberterimaan tiga jenis manipulasi struktur kalimat non-baku (SOP, PSO, dan OPS) yang diujikan secara lisan kepada responden pedagang, dengan kerangka acuan dari struktur baku SPO. Menggunakan metode kuantitatif deskriptif, hasil pengujian 15 data per manipulasi menunjukkan adanya gradasi toleransi sintaksis yang tinggi pada komunikasi lisan. Struktur PSO (Predikat-Subjek-Objek) merupakan manipulasi yang paling berterima (86.67%), diikuti oleh SOP (66.67%), dan OPS sebagai yang paling tidak berterima (60.00%). Temuan ini menyimpulkan bahwa komunikasi lisan non-formal sangat fleksibel dan tidak terikat ketat pada kaidah SPO. Tingginya keberterimaan struktur non-baku, terutama PSO, mengindikasikan bahwa mitra tutur (pedagang) mampu mengkonstruksi makna secara efisien, didukung oleh pengetahuan kontekstual (pragmatis) tentang tujuan interaksi. Sebagai rekomendasi bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas objek kajian ke manipulasi sintaksis yang lebih kompleks (melibatkan Keterangan) dan mendiversifikasi subjek penelitian melampaui kelompok pedagang, serta mengintegrasikan analisis kualitatif untuk menguji faktor-faktor pendorong keberterimaan secara mendalam.
Copyrights © 2025