Keluarga sebagai unit sosial terkecil menghadapi tantangan kompleks di era modern, mulai dari krisis komunikasi hingga tingginya angka perceraian. Ajaran Islam, khususnya hadis Nabi Muhammad SAW, menawarkan panduan yang relevan secara universal. Artikel ini mengkaji secara mendalam hadis “Khairukum khairukum li ahlih wa anā khairukum li ahli” (Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis multidisipliner untuk menggali makna hadis ini melampaui interpretasi fikih konvensional. Analisis mengintegrasikan perspektif ilmu hadis (takhrij dan asbabul wurud), hukum Islam (fikih munakahat dan maqasid al-shari'ah), psikologi keluarga, dan sosiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan sebuah kerangka kerja komprehensif yang menetapkan standar kebaikan holistik. Secara fikih, hadis ini menjadi ruh dari konsep mu'asyarah bil ma'ruf. Secara psikologis, ia mempromosikan kecerdasan emosional, komunikasi empatik, dan pola kelekatan yang aman (secure attachment). Secara sosiologis, hadis ini berfungsi sebagai instrumen untuk membangun ketahanan keluarga (family resilience) dan agen sosialisasi nilai-nilai luhur. Kesimpulannya, revitalisasi pemahaman hadis ini secara multidisipliner dapat menjadi solusi strategis dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah yang tangguh menghadapi tantangan zaman.
Copyrights © 2025