Penelitian ini mengkaji peran keramik Eropa, khususnya jenis pinggan, dalam praktik sosial dan ritual adat masyarakat Batak Angkola di Desa Aloban, Kabupaten Padang Lawas Utara. Artefak ini awalnya masuk sebagai produk kolonial dan mengalami akulturasi hingga menjadi simbol status serta warisan budaya sakral. Dengan pendekatan kualitatif dan studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan kajian dokumen sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pinggan awalnya hanya digunakan oleh kalangan bangsawan, namun kini telah mengalami demokratisasi fungsi meski tetap bernilai sakral dalam konteks adat. Transformasi peran pinggan mencerminkan akulturasi budaya Eropa-Batak sekaligus tantangan pelestarian di tengah modernisasi. Salah satu cara melestarikan pinggan dari ancaman penurunan jumlah ialah melalui pemberdayaan masyarakat di desa Aloban yang dilakukan dalam rangka peningkatan sumber daya manusia, khususnya masyarakat adat, dalam hal ini pemberdayaan tidak hanya mempertahankan kuantitas namun juga mengedukasi masyarakat terkait sejarah, makna serta nilai dari pinggan tersebut. Penelitian ini memperkaya wacana sejarah budaya dan mendorong kesadaran kolektif untuk menjaga warisan budaya lokal.
Copyrights © 2025