Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama kunjungan balita ke fasilitas kesehatan tingkat pertama dan sering memerlukan terapi antibiotik. Dalam sistem pembiayaan kapitasi, pemilihan antibiotik yang efisien menjadi penting agar Puskesmas dapat memberikan pelayanan berkualitas tanpa membebani anggaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis minimalisasi biaya antara amoksisilin dan sefadroksil dalam terapi ISPA pada balita di Puskesmas, dengan asumsi efektivitas klinis kedua antibiotik adalah setara. Menggunakan metode deskriptif-analitik dengan pendekatan cost-minimization analysis (CMA), data penggunaan antibiotik, harga obat, dan pengeluaran kapitasi dianalisis dari perspektif fasilitas kesehatan. Hasil menunjukkan bahwa dari 1.284 kasus ISPA, amoksisilin digunakan pada 69,4% kasus dan sefadroksil pada 30,5% kasus. Meskipun demikian, biaya sefadroksil menyumbang 57,4% dari total pengeluaran antibiotik karena harga per episodenya 3,07 kali lebih mahal dibandingkan amoksisilin. Total biaya aktual sebesar Rp 15.706.000 dapat ditekan hingga Rp 9.630.000 apabila seluruh kasus menggunakan amoksisilin, menghasilkan potensi penghematan sebesar Rp 6.076.000 (38,7%). Simulasi skenario lain juga menunjukkan penghematan signifikan bila penggunaan sefadroksil dibatasi hanya pada kasus khusus. Dengan demikian, amoksisilin merupakan pilihan paling efisien secara ekonomi untuk terapi ISPA balita dan berperan penting dalam menjaga keberlanjutan dana kapitasi serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer.
Copyrights © 2026