Penelitian ini berfokus pada isu "darurat membaca" di Indonesia, yang ditandai dengan rendahnya literasi membaca siswa berdasarkan hasil survei Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) secara konsisten. Dalam laporan PISA 2022, Indonesia berada di peringkat ke-74 dari 79 negara dengan skor literasi membaca 380, jauh di bawah rata-rata. Rendahnya kemampuan ini menghadirkan tantangan besar bagi sistem pendidikan dan menghambat peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Bertujuan menganalisis permasalahan dan menawarkan solusi kebijakan untuk meningkatkan minat baca sebagai fondasi awal terwujudnya generasi yang memiliki daya saing, berpikir kritis, dan SDM yang berkualitas. Metode yang digunakan adalah literatur review dan studi kasus untuk menganalisis laporan relevan dan menyoroti fenomena nyata seperti kurangnya akses bahan bacaan dan budaya membaca yang minim. Hasil kajian menunjukkan bahwa rendahnya minat baca dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor sosial dan budaya, di mana membaca belum menjadi kebiasaan sehari-hari dan sering dianggap hanya sebagai kegiatan akademis. Faktor keterbatasan akses buku dan fasilitas yang tidak memadai, yang ditunjukkan oleh minimnya perpustakaan di setiap daerah dan ketidakmerataan distribusi buku. Konsekuensi dari krisis ini meliputi menurunnya kemampuan berpikir kritis dan analitis, lemahnya kemampuan komunikasi dan penalaran ilmiah, serta kurangnya daya saing SDM dalam konteks global.
Copyrights © 2026