Masa pubertas pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seringkali menimbulkan tantangan perilaku yang signifikan di SLB N 1 Yogyakarta, seperti agresi dan perilaku impulsif, karena keterbatasan kognitif dalam mengelola perubahan fisik dan dorongan hormonal. Kurangnya keterampilan orang tua dalam memberikan pendidikan seksual yang inklusif memperburuk kondisi ini. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan pendampingan, dan efikasi diri orang tua/pengasuh dalam mengelola perilaku pubertas dan mengajarkan konsep batasan diri serta kebersihan. Metode yang digunakan adalah psikoedukasi dan praktik langsung yang dilaksanakan dalam empat sesi, termasuk ceramah, presentasi, penggunaan buku bergambar ("Kenali untuk Jaga Diri"), dan sesi Mitos atau Fakta. Hasil pengukuran melalui perbandingan skor Pretest dan Post-Test menunjukkan adanya peningkatan yang positif, terutama pada Skala Pengetahuan, di mana proporsi peserta dengan kategori "tinggi" meningkat dari 20% menjadi 40%. Selain itu, terdapat peningkatan signifikan pada skor total efikasi diri pada beberapa peserta. Respons positif dari peserta menunjukkan bahwa psikoedukasi dan praktik langsung efektif dalam membekali orang tua dengan strategi komunikasi visual dan meningkatkan keyakinan diri mereka dalam pendampingan. Untuk keberlanjutan program, direkomendasikan tindak lanjut yang lebih adaptif terhadap keberagaman disabilitas anak.
Copyrights © 2025