Wayang sebagai warisan budaya nusantara tidak hanya hadir sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sarana penyampaian nilai moral, spiritual, dan sosial. Dalam dinamika Islam di Indonesia, wayang digunakan sebagai dakwah kultural yang lentur dan dialogis, meski di era modern dengan arus globalisasi dan dominasi media digital posisinya kerap dianggap menjauh dari generasi muda. Artikel ini menelaah pemaknaan generasi muda pecinta wayang terhadap nilai-nilai Islam dalam cerita pewayangan serta relevansinya bagi kehidupan mereka, menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam dan penguatan studi pustaka ilmiah lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) wayang dipahami sebagai narasi kehidupan yang menyediakan ruang refleksi keislaman secara kontekstual, 2) nilai akhlak, amanah, pengendalian diri, kebijaksanaan sosial, dan sikap moderat dipelajari melalui tokoh serta konflik cerita yang dekat dengan realitas manusia, 3) cara penyampaian nilai dalam wayang dinilai selaras dengan Islam Nusantara karena berwatak inklusif dan tidak konfrontatif. Walau menghadapi perubahan selera hiburan dan pola konsumsi budaya, wayang tetap potensial sebagai media pembelajaran nilai Islam jika dikembangkan secara kritis dan adaptif, terutama untuk memperkuat kesadaran keislaman generasi muda yang berakar pada konteks sosial-budaya lokal.
Copyrights © 2026