Pendidikan modern seringkali menekankan pengembangan nalar kritis sebagai tujuan utama, namun abai terhadap fondasi akhlak yang membimbingnya. Fenomena ini menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual namun rentan menggunakan kemampuannya untuk tujuan destruktif, seperti penyebaran disinformasi dan perdebatan tanpa adab di era digital. Artikel ini bertujuan untuk merumuskan kembali konsep nalar kritis yang tidak terpisah dari nilai-nilai moral, dengan menggunakan perspektif filsafat pendidikan Islam. Melalui metode studi pustaka kualitatif dengan pendekatan analisis filosofis, penelitian ini menggali khazanah pemikiran Islam klasik, khususnya gagasan tentang ilmu, adab, dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Hasilnya menunjukkan bahwa dalam pandangan Islam, nalar kritis yang sejati adalah buah dari sinergi antara kemampuan analisis rasional (‘aql) dan kepekaan spiritual hati (qalb). Kesimpulannya, model pendidikan yang mengintegrasikan nalar dan akhlak secara inheren lebih unggul dalam membentuk insan kamil individu yang tidak hanya mampu berpikir kritis, tetapi juga bertanggung jawab secara moral atas pemikirannya.
Copyrights © 2025