Pendahuluan: Ansietas merupakan salah satu bentuk gangguan psikologis yang rentan muncul pada pekerja kantoran akibat tingginya tuntutan kerja, target, dan lingkungan kompetitif. Kondisi ini dapat berdampak pada performa kerja dan kesejahteraan mental sehingga perlu dikaji lebih lanjut. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat depresi, ansietas, dan stres pada pekerja kantoran di kawasan Sudirman dengan menekankan pada proporsi ansietas. Metode: Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Action (PDCA). Pada tahap Plan, ditentukan peserta dan instrumen penelitian. Sebanyak 57 pekerja kantoran dipilih sebagai responden menggunakan metode purposive sampling. Tahap Do mencakup pengumpulan data menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42) yang telah terstandarisasi untuk mengukur tiga aspek psikologis, yaitu depresi, ansietas, dan stres. Tahap Check dilakukan dengan memeriksa dan menganalisis data secara deskriptif untuk mengidentifikasi distribusi kategori pada setiap dimensi gangguan psikologis. Tahap Action difokuskan pada interpretasi hasil untuk menyusun rekomendasi peningkatan kesehatan mental bagi pekerja kantoran. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta berada pada kategori normal di ketiga aspek. Namun proporsi ansietas didapatkan lebih tinggi dibandingkan depresi dan stres, dengan sejumlah peserta berada pada kategori ringan hingga sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun kondisi psikologis sebagian besar pekerja kantoran berada dalam batas wajar, tekanan pekerjaan di perkantoran masih dapat memicu munculnya gejala ansietas. Kesimpulan: Ansietas merupakan salah satu masalah utama yang patut mendapatkan perhatian khusus dalam kesehatan mental pekerja kantoran. Kondisi ini menuntut adanya upaya promotif dan preventif yang terstruktur, seperti pelatihan manajemen stres, layanan konseling psikologis, serta pembentukan lingkungan kerja yang lebih mendukung. Intervensi tersebut diharapkan mampu membantu karyawan mengelola tekanan pekerjaan dengan lebih efektif. Dengan demikian, keseimbangan antara tuntutan produktivitas dan kesejahteraan mental dapat tetap terjaga secara berkelanjutan.
Copyrights © 2025