Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan kebijakan sosial pemerintah yang bertujuan memutus rantai kemiskinan melalui peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan keluarga miskin. Namun, efektivitas program tidak hanya bergantung pada penyaluran bantuan tunai, melainkan juga pada dinamika sosial dan kolaborasi para pemangku kepentingan di tingkat lokal. Penelitian ini menganalisis bagaimana modal sosial bonding, bridging, dan linking dimanfaatkan dalam implementasi PKH di Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan.Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Informan terdiri dari keluarga penerima manfaat (KPM), aparatur desa, pendamping PKH, serta tokoh masyarakat dan agama. Data dianalisis secara deskriptif-analitis untuk memahami konstruksi sosial yang terbentuk dari interaksi antar-aktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bonding social capital tercermin dalam solidaritas KPM yang saling mengingatkan kewajiban program. Bridging social capital tampak melalui koordinasi desa, pendamping, dan KPM dalam forum pertemuan. Linking social capital terlihat dari peran pendamping PKH dan aparatur desa yang menjaga legitimasi program di mata masyarakat. Tantangan yang muncul antara lain keterbatasan akses desa terhadap sistem SIKS-NG, resistensi sebagian KPM terhadap kewajiban program, serta kecemburuan sosial akibat ketidaktepatan sasaran. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan PKH di Teluk Dalam dipengaruhi tidak hanya oleh mekanisme administratif, tetapi juga oleh kekuatan modal sosial yang menopang hubungan antar-stakeholders. Kolaborasi berbasis nilai sosial dan budaya lokal menjadi kunci untuk memperkuat efektivitas program perlindungan sosial di tingkat desa.
Copyrights © 2025