Kebijakan Asesmen Nasional menggeser evaluasi berskala nasional dari Ujian Nasional menuju Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang menekankan literasi membaca dan numerasi pada semua mata pelajaran, termasuk Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Kondisi ini menuntut guru PJOK untuk mampu menyusun soal AKM berbasis konteks pembelajaran jasmani. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman guru PJOK SMP di Kabupaten Nganjuk tentang penyusunan soal AKM melalui pelatihan dan pendampingan. Peserta berjumlah 14 guru anggota MGMP PJOK SMP. Kegiatan dilakukan melalui workshop tatap muka yang meliputi pengenalan kebijakan AKM, analisis contoh soal, praktik penyusunan soal, serta klinik revisi. Evaluasi dilakukan menggunakan angket skala Likert (pemahaman sebelum–sesudah, penilaian terhadap materi, fasilitator, fasilitas, dan aspek penerapan) serta pertanyaan terbuka. Hasil menunjukkan peningkatan persepsi pemahaman guru dari kategori netral (rerata B1 = 3,07) menjadi setuju (rerata B2 = 4,00). Aspek materi, fasilitator, dan fasilitas memperoleh rerata >4,20 (kategori sangat setuju), sedangkan kecukupan waktu menjadi aspek terendah (rerata 3,64) namun masih pada kategori baik. Guru menyatakan mampu dan berniat menerapkan soal AKM di kelas, serta menilai pelatihan sangat bermanfaat bagi pengembangan profesional. Temuan kualitatif menegaskan perlunya penambahan durasi, pelatihan berseri, dan pendalaman materi AKM/HOTS. Secara keseluruhan, program PKM ini efektif meningkatkan pemahaman guru PJOK terhadap penyusunan soal AKM serta menghasilkan draf soal AKM PJOK yang dapat dimanfaatkan MGMP.
Copyrights © 2025