Pekerja sektor informal seperti di UMKM Gula Merah Desa Kajar, Kudus, memiliki risiko tinggi terhadap paparan kebisingan dari mesin diesel yang digunakan dalam proses produksi. Paparan ini berpotensi menimbulkan gangguan pendengaran apabila melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko kebisingan serta menilai efektivitas intervensi edukasi penggunaan alat pelindung diri (APD) berupa earplug. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control) dan Force Field Analysis (FFA). Pengukuran kebisingan dilakukan menggunakan Sound Level Meter, dan hasilnya dianalisis menggunakan perhitungan Leq. Hasil menunjukkan bahwa tingkat kebisingan di sekitar mesin mencapai 102,82 dB dan di area pekerja sebesar 90,56 dB, melebihi NAB sebesar 85 dB. Edukasi dilakukan melalui ceramah, demonstrasi penggunaan earplug, serta observasi perilaku pekerja. Evaluasi FFA menunjukkan bahwa intervensi edukatif lebih mudah diterapkan dan mendapat dukungan tinggi dibandingkan dengan kebijakan formal. Intervensi ini terbukti meningkatkan pemahaman dan kesadaran pekerja mengenai bahaya kebisingan dan pentingnya penggunaan APD. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan edukatif dan promotif dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3) efektif diterapkan di sektor informal, serta dapat menjadi strategi awal untuk membangun budaya kerja yang aman dan sehat di lingkungan UMKM.
Copyrights © 2025