angguan penyakit kulit merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering diremehkan, meskipun berdampak signifikan terhadap kualitas hidup penderitanya. Paparan lingkungan yang tidak sehat, seperti polusi udara, bahan kimia, dan kualitas air yang buruk, diketahui berperan dalam meningkatnya kejadian penyakit kulit, terutama di wilayah urban dengan aktivitas industry dan transportasi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gangguan penyakit kulit dan kualitas hidup masyarakat di kelurahan Teluk Sepang, Kota Bengkulu, menggunakan Dermatology Life Quality Index (DLQI). Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel terdiri dari 85 repsonden berusia ≥17 tahun yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner karakteristik responden, paparan lingkungan, dan DLQI. Analisis bivariate dilakukan menggunakan uji chi square dan odds ratio (OR) untuk menilai hubungan antara gangguan penyakit kulit dan kualitas hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,4% responden mengalami gangguan penyakit kulit. Dari kelompok tersebut, 49,1% memiliki kualitas hidup buruk (moderate hingga extreme effect), sedangkan pada kelompok tanpa gangguan kulit hanya 3,1% yang mengalami kualitas hidup buruk. Analisis statistic menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara gangguan penyakit kulit dan penurunan kualtaas hidup (p = 0,000; OR = 29,85). Penurunan kualitas hidup terutama terjadi pada domain gejala dan perasaan, ditandai oleh keluhan gatal kronis, nyeri dan rasa terbakar yang menetap. Dampak lanjutan terlihat pada domain aktivitas sehari-hari dan pekerjaan atau pendidikan berupa keterbatasan aktivitas, gangguan tidur dan penurunan produktivitas. Selain itu, domain hubungan personal dan rekreasi juga terdampak akibat lesi kulit yang telihat, rasa malu, dan pembatasan aktivitas social. Beban pengobatan yang berulang dan berkepanjangan turut berkontribusi terhadap penurunan kualitas hidup pada domain pengobatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa responden dengan gangguan kulit memiliki peluang hampir 30 kali lebih besar untuk mengalami penurunan kualitas hidup dibandingkan responden tanpa gangguan kulit. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa gangguan penyakit kulit merupakan masalah kesehatan multidimensial yang dipengaruhi oleh factor lingkungan dan berdampak besar terhadap kualitas hidup masyarakat. Diperlukan upaya promotive dan preventif melalui pengendalian paparan lingungan, peningkatan akses air bersih, serta integrase skrining dan penatalaksanaan gangguan kulit berbasis DLQI di layanan kesehatan primer.
Copyrights © 2025