Abstrak Tingginya serangan hama tikus menjadi faktor pembatas utama produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Muaro Jambi. Keterbatasan akses terhadap teknologi pengendalian hayati menyebabkan petani bergantung pada pestisida kimia, yang berisiko menimbulkan pencemaran lingkungan, resistensi hama, dan gangguan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan metode pengendalian hama berbasis ekologi yang efektif, terjangkau, dan mudah diterapkan bagi petani sawit rakyat. Program pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan menekankan keterlibatan aktif petani pada setiap tahap kegiatan, meliputi identifikasi masalah, sosialisasi, pembuatan rumah burung hantu (gupon), pelepasan Tyto alba, serta kegiatan monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemasangan satu unit gupon yang mencakup area seluas 30 hektar mampu menurunkan populasi tikus sekitar 28% dalam waktu tiga bulan, menurunkan tingkat kerusakan tanaman dari 18,5% menjadi 11,2%, serta mengurangi penggunaan pestisida dari 12,5 liter/ha/tahun menjadi 10 liter/ha/tahun (penurunan sebesar 20%). Akibatnya, biaya pestisida menurun dari Rp2.500.000/ha/tahun menjadi Rp2.000.000/ha/tahun, sementara produktivitas tandan buah segar (TBS) meningkat dari 15,8 ton/ha/tahun menjadi 16,4 ton/ha/tahun (peningkatan sebesar 3,8%). Temuan ini membuktikan bahwa penerapan Tyto alba merupakan strategi pengendalian hayati yang menjanjikan, hemat biaya, dan ramah lingkungan. Kebaruan dari program ini terletak pada integrasi aspek ekologi dan ekonomi melalui model konservasi berbasis PAR, yang tidak hanya meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya dalam perkebunan kelapa sawit rakyat, tetapi juga memperkuat kelembagaan petani. Model ini berpotensi untuk direplikasi di wilayah perkebunan rakyat lain yang memiliki karakteristik serupa. Kata kunci: pengendalian hayati; tyto alba; produktivitas kelapa sawit; keberlanjutan; perkebunan kelapa sawit rakyat. Abstract Rodent pests remain one of the major constraints to the productivity and sustainability of smallholder oil palm plantations in Muaro Jambi Regency. Farmers commonly rely on chemical pesticides, which pose risks of environmental contamination, pest resistance, and health hazards. This community engagement program employed a Participatory Action Research (PAR) approach, emphasizing active involvement of farmers in every stage, including problem identification, socialization, construction of barn owl nest boxes (gupon), release of Tyto alba, as well as monitoring and evaluation. The results demonstrated that the installation of a single gupon covering 30 hectares reduced rat populations by approximately 28% within three months, decreased crop damage rates from 18.5% to 11.2%, and lowered pesticide use from 12.5 liters/ha/year to 10 liters/ha/year (a 20% reduction). Consequently, pesticide costs declined from IDR 2,500,000/ha/year to IDR 2,000,000/ha/year, while fresh fruit bunch (FFB) productivity increased from 15.8 tons/ha/year to 16.4 tons/ha/year (an improvement of 3.8%). These findings confirm that the application of Tyto alba is a promising, cost-effective, and environmentally friendly biological control strategy. The novelty of this program lies in integrating ecological and economic aspects through a PAR-based conservation model, which not only improves productivity and cost efficiency in smallholder oil palm farming but also strengthens farmer institutions. This model has the potential to be replicated in other smallholder plantation areas with similar characteristics. Keywords: biological control; tyto alba; oil palm productivity; sustainability; smallholder oil palm.
Copyrights © 2026