Studi ini menelaah puisi “Aku” karya Chairil Anwar melalui pendekatan semiotik untuk mengungkap makna perlawanan sosial di dalamnya. Ditulis pada masa kolonial, puisi ini memanfaatkan simbol-simbol kuat yang mengekspresikan kebebasan, pemberontakan, dan kritik terhadap kekuasaan kolonial serta norma sosial yang mengekang. Dengan metode deskriptif kualitatif, penelitian menerapkan teori semiotik Saussure, Peirce, dan Barthes untuk menafsirkan hubungan penanda dan petanda, ikon, indeks, simbol, serta makna denotatif dan konotatif. Data diperoleh melalui studi pustaka, dengan puisi sebagai sumber utama dan literatur pendukung sebagai sumber sekunder. Analisis menunjukkan bahwa citra seperti “binatang jalang,” “peluru menembus kulitku,” dan “hidup seribu tahun lagi” melambangkan perlawanan ideologis terhadap penindasan, ketidakadilan, dan hegemoni sosial. Pembacaan hermeneutik menempatkan tokoh “aku” sebagai ekspresi individualisme penyair sekaligus suara kolektif generasi muda yang mendambakan kebebasan. Studi menyimpulkan bahwa “Aku” memiliki kekuatan estetis dan kritik sosial yang tetap relevan bagi konteks Indonesia masa kini.
Copyrights © 2026