Penelitian ini didasari oleh sebuah renungan diagnostik atas krisis ontologis dalam pendidikan Islam modern, di mana dikotomi antara ilmu agama dan sains telah menyebabkan ilmu kehilangan jiwa spiritualnya dan berorientasi pada sekularisasi yang tidak utuh. Dengan mengadopsi pendekatan kajian pustaka kualitatif menelusuri gema pemikiran Al-Attas, Al-Faruqi, dan narasi kontemporer studi ini bertujuan untuk menegaskan kembali hakikat Tauhid sebagai fondasi filosofis dan epistemologis yang menautkan wahyu dan akal dalam satu kesatuan makna yang otentik (unity of knowledge). Hasilnya menunjukkan bahwa Tauhid bukan sekadar teori, melainkan sebuah kompas etis yang mengarahkan seluruh kurikulum pada tujuan aksiologis tertinggi: pembentukan Insan Kamil yang beriman, berilmu, dan beradab. Kesatuan ini menjadi perangkat spiritual yang esensial, memungkinkan peserta didik untuk tetap waspada dan berpihak pada kemaslahatan di tengah tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, sehingga ilmu dan teknologi tidak menjadi alat dehumanisasi, melainkan sarana untuk meraih ridha Ilahi.
Copyrights © 2026