Penelitian ini menganalisis persepsi orang tua dalam memetakan kebutuhan pendidikan inklusi di PAUD bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), terdapat kesenjangan antara kebijakan dan praktik serta minimnya keterlibatan orang tua. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif dengan desain eksploratoris berurutan, data dikumpulkan melalui kuesioner (52 orang tua) dan wawancara mendalam (15 partisipan) di Kota Balikpapan. Temuan mengungkap tiga tantangan utama: ketidaksiapan sarana-prasarana (65%), kompetensi guru yang belum optimal (57%), dan keterlibatan orang tua yang minim dalam perencanaan pembelajaran (55%). Namun, keterbukaan komunikasi sekolah (55%) menjadi faktor penyeimbang yang merefleksikan kebutuhan akan pengakuan dan kemitraan. Lima kebutuhan prioritas teridentifikasi: pelatihan guru, sarana aksesibel, kolaborasi (sekolah-orang tua-terapis), kurikulum fleksibel, dan dukungan psikologis bagi orang tua. Simpulan menegaskan bahwa pemetaan kebutuhan inklusi yang autentik harus berbasis suara orang tua sebagai expert by experience untuk mewujudkan kebijakan yang responsif, sekaligus mendorong pergeseran paradigma menuju kemitraan kolaboratif dalam ekosistem PAUD inklusif.
Copyrights © 2026