Dalam penelitian ini, kondisi felicity teori speech acts (Austin & Searle) dan maksim Grice digunakan untuk menganalisis kegagalan komunikatif yang melanggar prinsip pragmatik ketika aparat negara menuduh Sudrajat Es Gabus. Dengan menggunakan pendekatan pragmatik kualitatif, data primer dari transkrip tuturan fitnah aparat di media sosial dan konferensi pers diuji menggunakan checklist felicity conditions (sincerity, preparatory, propositional, essential) dan klasifikasi pelanggaran maksim (Quantity, Quality, Relation, Manner). Mengungkapkan kegagalan sincerity condition karena niat manipulatif dan pelanggaran kualitas karena informasi palsu dan pelanggaran hubungan yang menimbulkan implikasi fitnah.
Copyrights © 2026