Publish Date
30 Nov -0001
Hutan Desa Lebih merupakan kawasan seluas 3 hektar yang direboisasi dengan pohon mahoni pada tahun 2014 untuk mencegah erosi, mengingat posisinya berada di atas permukiman warga. Saat ini kawasan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan hanya berfungsi sebagai ruang hijau dengan potensi terbatas. Permasalahan utama adalah rendahnya pemanfaatan hutan desa, padahal terdapat potensi sumber mata air suci di Pura Taman Beji serta aktivitas ekonomi masyarakat melalui UMKM kuliner berbasis hasil laut. Pengabdian ini bertujuan mengkaji potensi Hutan Desa Lebih untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata berbasis kearifan lokal dengan konsep Tri Hita Karana. Fokus utamanya adalah bagaimana pengembangan ekowisata dapat mendukung pelestarian lingkungan, meningkatkan ekonomi lokal, serta menjaga keharmonisan sosial budaya. Metode yang digunakan adalah studi deskriptif-kualitatif dengan pendekatan analisis potensi sumber daya alam, sosial-ekonomi, serta kearifan lokal masyarakat. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengelola desa, serta kajian literatur terkait konsep ekowisata dan keberlanjutan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata dapat dilakukan melalui beberapa program: (1) jalur tracking dari desa menuju hutan; (2) lintasan ATV dan area istirahat; (3) fasilitas eco-glamping; (4) ruang komunal untuk kegiatan masyarakat; dan (5) tempat melukat di Pura Taman Beji. Pengembangan ini mendukung keberlanjutan dengan tiga pilar utama: pelestarian lingkungan, pemberdayaan ekonomi melalui UMKM kuliner, dan penguatan nilai spiritual serta sosial budaya. Dengan demikian, Hutan Desa Lebih berpotensi menjadi destinasi ekowisata unggulan yang sejalan dengan visi-misi desa dan tujuan SDGs.
Copyrights © 0000