Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya
Vol. 7 No. 01 (2026)

Beyond Armed Conflict: Structural Violence and Gendered Everyday Resistance in Riati MK’s Seulanga

Pratiwi, Siti Habsari (Unknown)
Ritonga, Mhd Rasid (Unknown)
Husnul Khatimah (Unknown)
Nadrah (Unknown)
Siti Muflichah (Unknown)



Article Info

Publish Date
05 May 2026

Abstract

Research on Acehnese conflict literature has predominantly discussed trauma, nationalism, and political struggle. Current studies on Acehnese literature have not fully revealed that violence and moral agency are used in everyday life. This article interrogates the representation of conflict beyond militarised and event-based narratives through reading Seulanga: Gelora Cinta di Tengah Perjuangan Aceh by Riati MK. We employed a qualitative interpretive approach rooted in textual analysis to analyse narrative representations of land dispossession, environmental exploitation, bureaucratic coercion, and interpersonal relations between Seulanga and Salam. This article argues that structural violence constitutes a productive lens for thinking through the relationship between conflict, gendered agency, and everyday ethics in Acehnese literature. We used Johan Galtung’s concept of structural violence as an analytical framework. The finding reveals that the novel uncovers the conflict in terms of structural violence. The violence is caused by indirect institutional processes and economic pressures for development. The analysis discloses that everyday forms of moral agency constrain the conception of militarised modes of resistance. The novel critiques the abstract and future oriented forms of revolutionary idealism through Salam which produces asymmetric moral labour across private lives. This article suggests the role of literature in exposing unseen and accepted forms of violence in everyday social life. Studi terkait sastra konflik Aceh masih berfokus pada trauma, nasionalisme, dan politik. Kajian terkait sastra Aceh belum secara optimal menunjukkan berbagai bentuk kekerasan dan agensi moral dalam kehidupan sosial sehari-hari. Tulisan ini mengeksplorasi representasi konflik di luar narasi militer. Argumentasi yang dikemukakan adalah bahwa kekerasan struktural merupakan jendela untuk melihat hubungan antara konflik, agensi berbasis gender, dan etika sehari-hari dalam sastra Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah interpretatif kualitatif yang berakar pada analisis tekstual. Pendekatan ini menganalisis representasi naratif tentang perampasan tanah, eksploitasi lingkungan, paksaan birokrasi, dan hubungan interpersonal antara Seulanga dan Salam. Studi ini menggunakan konsep kekerasan struktural Johan Galtung sebagai kerangka analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Seulanga mengonstruksi konflik melalui kekerasan struktural. Proses kekerasan institusional tidak langsung dan tekanan ekonomi yang dibangun di atas wacana Pembangunan merupakan akar kekerasan. Temuan ini menunjukkan bahwa agensi moral sehari-hari mereduksi konsepsi bentuk perlawanan berorientasi militeristik. Novel ini mengkritik idealisme revolusioner melalui karakter Salam yang memperlihatkan bentuk-bentuk perjuangan revolusioner yang abstrak dan berorientasi masa depan namun menghasilkan beban moral yang tidak seimbang. Artikel ini menegaskan peran sastra dalam mengungkap bentuk-bentuk kekerasan yang tersembunyi dan dinormalisasi dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

tabasa

Publisher

Subject

Education Languange, Linguistic, Communication & Media

Description

Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya facilitates and disseminates scientific articles from academics, teachers, and observers of Indonesian language and literature which includes the following focus and scope. 1. Indonesian language and its development 2. Indonesian literature ...