Eksploitasi dan ketimpangan gender terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam sektor industri konvensional, tetapi juga dalam praktik pengelolaan lingkungan sehari-hari, seperti pengelolaan sampah. Dalam perspektif feminisme interseksional, pengelolaan sampah dapat dipahami sebagai praktik industri ekstraktif non-material yang bergantung pada kerja perawatan perempuan. Kerja ini dinormalisasi sebagai tanggung jawab domestik, tidak diakui sebagai kerja produktif, dan sering kali luput dari perlindungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengelolaan sampah mereproduksi eksploitasi, invisibilitas gender, dan ketimpangan relasi kuasa terhadap perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif fenomenologis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi, dengan subjek penelitian berupa perempuan yang memiliki pengalaman langsung dalam praktik pengelolaan sampah sehari-hari. Jumlah informan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang, dengan penggalian data dilakukan hingga mencapai kecukupan informasi dan tidak ditemukan variasi pengalaman baru yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kerja perawatan perempuan menjadi fondasi utama keberlangsungan sistem pengelolaan sampah, namun dinormalisasi dan tidak diakui secara sosial maupun ekonomi; (2) terdapat ketimpangan relasi kuasa antara perempuan sebagai pelaksana kerja perawatan dan aktor institusional sebagai pengendali kebijakan; serta (3) perempuan mengalami dampak sosial dan psikologis berupa tekanan moral, kelelahan emosional, dan stigma sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya mengekstraksi sumber daya material, tetapi juga mengekstraksi waktu, tenaga, dan kesejahteraan sosial perempuan. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis pengelolaan sampah sebagai industri ekstraktif melalui perspektif feminisme interseksional dengan pendekatan fenomenologi.
Copyrights © 2026