Pendidikan sangat penting untuk mengembangkan sumber daya manusia dan pertumbuhan sosial ekonomi suatu wilayah. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) merupakan salah satu cara untuk mengukur pembangunan manusia dilihat dari lamanya penduduk usia 25 tahun menyelesaikan pendidikan. Studi ini berfokus pada Kabupaten Muara Enim, yang memiliki RLS yang lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional dan provinsi, dengan tujuan mengevaluasi kebijakan yang dapat mempercepat peningkatan RLS. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-eksploratori, dengan proses pengumpulan data melalui studi dokumentasi (RLS, kemiskinan, pendidikan, fasilitas sekolah yang berasal dari BPS), wawancara/FGD, dan observasi lapangan terbatas di enam kecamatan yang dijadikan sampel untuk mewakili daerah tersebut. Hasil studi ini menunjukkan bahwa kebijakan berbasis wilayah harus mencakup pengembangan infrastruktur pendidikan, peningkatan pemberdayaan gender, dan revitalisasi pendidikan vokasi dan nonformal untuk mendorong Rata-rata Lama Sekolah (RLS) yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Muara Enim berada di Kuadran II (Kemiskinan Relatif Rendah, RLS Rendah), menunjukkan bahwa masalah utama yang menghambat peningkatan RLS adalah kendala struktural sisi penawaran (supply-side) atau kurangnya sekolah, bukan keterbatasan ekonomi rumah tangga. Kesimpulan penelitian ini menyajikan usulan kerangka kebijakan tiga pilar, yaitu Pilar Spasial (Membangun Satuan Sekolah Baru/Sekolah Satu Atap dan memastikan daerah tertinggal menerima transportasi gratis), Pilar Gender dan Kapabilitas (advokasi anti pernikahan dini dan beasiswa tindakan afirmatif), dan Pilar Non-Formal (revitalisasi PKBM digital dan integrasi pendidikan kesetaraan dan pelatihan vokasi untuk orang dewasa).
Copyrights © 2025