Pendidikan inklusif bagi anak tunadaksa merupakan kebutuhan mendesak karena keterbatasan fisik sering berdampak pada perkembangan motorik halus, kemandirian, dan kepercayaan diri anak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan stimulasi motorik halus melalui aktivitas mewarnai yang menyenangkan dan adaptif di SLB Negeri Bone Bolango. Metode yang digunakan adalah praktik langsung dengan pendekatan individual, meliputi tahap pembukaan (penciptaan suasana belajar kondusif), kegiatan inti (pembimbingan mewarnai dengan instruksi sederhana dan berulang), serta penutup (apresiasi hasil karya dan refleksi bersama). Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada kelas II dengan melibatkan anak tunadaksa berusia 8 tahun. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menggenggam alat warna, koordinasi mata-tangan, serta keberanian anak dalam memilih dan mengombinasikan warna. Selain itu, aspek kognitif, bahasa, sosial, dan emosional anak turut berkembang melalui interaksi, pemahaman instruksi, serta motivasi yang diperoleh dari pujian guru. Kendala yang ditemukan berupa konsentrasi yang mudah teralihkan dan hasil mewarnai yang belum rapi, namun dapat diatasi dengan pendampingan sabar dan latihan berkelanjutan. Kesimpulannya, kegiatan mewarnai efektif sebagai stimulasi motorik halus sekaligus sarana pembelajaran yang menyenangkan, sehingga direkomendasikan untuk terus dilaksanakan secara konsisten baik di sekolah maupun di rumah dengan dukungan guru dan orang tua.
Copyrights © 2026