Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa

Reconciling Conflicts of Canadian Racism Through Hegemony of Papal Apologies: Perspectives from Critical Discourse Analysis

Elisa Nurul Laili (Universitas Hasyim Asy'
ari)

Riyadi Santosa (Universitas Sebelas Maret)
Tri Wiratno (Universitas Sebelas Maret)
Mangatur Nababan (Universitas Sebelas Maret)



Article Info

Publish Date
31 Dec 2024

Abstract

Apology is one of expressive speech acts aims to erase the wound. Speech texts, uttered by most influential people, has transactional function to emphasize the content of the apology as speech act itself. Pope’s apology is considered a significant moment to reconcile societal conflicts, especially indigenous Canadians. The strategy used by Pope in his apology was considered successful, because it received a positive response from the victim's family. This study describes Pope Francis' apology strategy to Indigenous Canadians using the CDA model presented by van Dijk and Foucault and the theory of apology strategy proposed by Trosborg. The data are taken from the speech transcripts derived from official websites and analyzed usik content analysis. Through the description of apology strategies, it can bea concluded that Pope Francis used direct and indirect strategies that show his effort to erase the racism issues in society. This also shown how hegemony handles the main role to overcome the issues of racism that has raised by the media. It is hoped to be investigated further to get more explanation of language roles to reconcile the conflicts. AbstrakPermintaan maaf merupakan salah satu tindak tutur ekspresif yang bertujuan untuk menghapus luka. Teks tutur yang dituturkan oleh orang-orang yang paling berpengaruh memiliki fungsi transaksional untuk menekankan isi permintaan maaf sebagai tindak tutur itu sendiri. Permintaan maaf Paus dianggap sebagai momen penting untuk mendamaikan konflik masyarakat, khususnya masyarakat adat Kanada. Strategi yang digunakan Paus dalam permintaan maafnya dinilai berhasil, karena mendapat tanggapan positif dari keluarga korban. Penelitian ini menguraikan strategi permintaan maaf Paus Fransiskus kepada masyarakat adat Kanada dengan menggunakan model CDA yang dikemukakan oleh van Dijk dan Foucault serta teori strategi permintaan maaf yang dikemukakan oleh Trosborg. Data diambil dari transkrip tuturan yang diperoleh dari situs web resmi dan dianalisis menggunakan analisis isi. Melalui uraian strategi permintaan maaf, dapat disimpulkan bahwa Paus Fransiskus menggunakan strategi langsung dan tidak langsung yang menunjukkan upayanya untuk menghapus isu rasisme di masyarakat. Hal ini juga menunjukkan bagaimana hegemoni memegang peranan utama untuk mengatasi isu rasisme yang diangkat oleh media. Diharapkan dapat diteliti lebih lanjut untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang peran bahasa untuk mendamaikan konflik tersebut.

Copyrights © 2024






Journal Info

Abbrev

jurnal_ranah

Publisher

Subject

Description

https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope ...