Kejadian longsoran yang dipengaruhi hujan sering terjadi di Indonesia. Hujan dipahami sebagai faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan tekanan air pori dan kenaikan muka air tanah. Penelitian ini menggunakan data pengeboran, sifat mekanik, data curah hujan harian, kondisi hidrogeologi, dan data gempa. Longsoran yang terjadi merupakan longsoran dangkal, dengan kedalaman bidang gelincir 3 meter dibagian atas lereng dan 7 meter dibagian bawah lereng. Bidang gelincir longsoran memiliki bentuk rotasional. Material penyusun longsoran terdiri dari tanah dan batuan yang berasal dari pelapukan batuan vulkanik. Penampang bawah permukaan menunjukkan bahwa terdapat kontak antara breksi tufan lapuk sedang dan breksi tufan lapuk tinggi yang berperan sebagai bidang gelincir. Geologi lereng tersusun dari lava andesit-basaltik, breksi tufan lapuk sedang dan breksi tufan lapuk tinggi. Longsoran dangkal terjadi setelah dipengaruhi hujan hari-hari sebelumnya yang mempengaruhi peningkatan tekanan air pori. Proses terjadinya longsoran diawali dengan munculnya rekahan tarik. Hasil analisis menunjukkan pengaruh curah hujan tinggi secara drastis mempengaruhi penurunan matric suction pada lereng yang menyebabkan terbentuknya rekahan tarik. Pemodelan dilakukan dengan dua simulasi yaitu simulasi dengan pengaruh hujan pendahuluan durasi 47 hari dan pengaruh hujan durasi 10 hari dengan kondisi awal sama. Hasil analisis menunjukkan hujan pendahuluan 47 hari mempengaruhi terjadinya longsoran dibandingkan dengan curah hujan pendahuluan selama 10 hari. Hasil pemodelan durasi 10 hari memiliki nilai faktor keamanan yang lebih tinggi, menunjukkan tidak sesuai keadaan di lapangan karena mengabaikan kondisi hidrogeologi hari sebelumnya. Mekanisme terjadinya longsoran pada area penelitian dipengaruhi oleh tekanan air pori, rekahan tarik dan gempa bumi sehingga didapatkan faktor keamanan sebesar 0.986.
Copyrights © 2026