Krisis karakter pada peserta didik, seperti melemahnya sikap gotong royong, kemandirian, dan kepedulian terhadap budaya lokal, menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah-sekolah di wilayah perbatasan Papua Selatan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam mengintegrasikan permainan rakyat Suku Malind ke dalam pembelajaran sebagai media internalisasi nilai-nilai karakter Profil Pelajar Pancasila di SD YPPK St. Fransiskus Xaverius Yanggandur, Distrik Sota, Kabupaten Merauke. Program melibatkan 20 guru yang didampingi untuk mengintegrasikan permainan rakyat Nenek Napet dan Tutulena ke dalam pembelajaran di kelas. Pendekatan yang digunakan bersifat deskriptif kualitatif dengan instrumen lembar observasi karakter yang dikembangkan berdasarkan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman-bertakwa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, dokumentasi, dan refleksi guru selama pendampingan implementasi pembelajaran berbasis permainan rakyat. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa aktivitas bermain permainan rakyat Suku Malind memunculkan secara nyata nilai gotong royong dan bernalar kritis melalui permainan Nenek Napet, serta nilai kemandirian dan kreativitas melalui permainan Tutulena. Nilai berkebinekaan global dan akhlak mulia tampak dari sikap menghormati aturan adat dan kebanggaan terhadap warisan budaya. Guru juga melaporkan tumbuhnya kesadaran baru bahwa permainan rakyat bukan sekadar hiburan, melainkan media efektif untuk penguatan karakter yang selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka. Kegiatan ini merekomendasikan agar revitalisasi permainan rakyat dijadikan tema tetap dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah-sekolah wilayah perbatasan sebagai strategi penguatan karakter berbasis kearifan lokal.
Copyrights © 2026