Mesin chiller merupakan peralatan penting dalam menjaga suhu ruangan produksi agar tetap sesuai standar proses. Tingginya frekuensi kerusakan mesin chiller dapat mengganggu operasional produksi, menurunkan kualitas produk, serta meningkatkan biaya perawatan. Oleh karena itu, diperlukan analisis yang komprehensif untuk mengidentifikasi penyebab kerusakan dan menentukan tindakan perbaikan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis penyebab tingginya tingkat kerusakan mesin chiller di area Utility PT MIJ 1 serta menyusun usulan perbaikan yang efektif untuk meminimalkan potensi kegagalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Fault Tree Analysis (FTA) untuk mengidentifikasi akar penyebab kegagalan, Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) untuk menentukan prioritas risiko berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN), diagram Ishikawa untuk mengelompokkan faktor penyebab, serta pendekatan 5W+1H untuk menyusun rekomendasi perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama kerusakan berasal dari aspek metode, mesin, dan manusia. Berdasarkan analisis FMEA, tiga penyebab dengan nilai RPN tertinggi adalah belum adanya standar parameter atau SOP operasional mesin chiller (RPN = 180), mesin chiller mengalami shutdown dan tidak termonitoring (RPN = 180), serta kurangnya pelatihan teknisi (RPN = 120). Analisis Ishikawa dan FTA menguatkan bahwa ketiga faktor tersebut merupakan akar penyebab dominan. Implementasi perbaikan melalui penyusunan SOP, pelatihan teknisi, dan pemasangan sistem monitoring menghasilkan penurunan suhu ruangan produksi dari 23,9°C menjadi 21,3°C atau sebesar 10,88% dalam periode enam bulan. Dapat disimpulkan bahwa penerapan metode FTA, FMEA, dan ishikawa efektif dalam mengidentifikasi akar penyebab kerusakan serta mendukung penyusunan tindakan perbaikan yang mampu meningkatkan kinerja mesin chiller. Perusahaan disarankan untuk melakukan evaluasi berkala terhadap SOP, program pelatihan teknisi, dan sistem monitoring guna menjaga keandalan mesin secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026