Perkembangan media digital yang masif menghadirkan tantangan serius berupa misinformasi, disinformasi, dan bias ideologis, khususnya bagi siswa Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Al Wathoniyyah Klender, Jakarta Timur yang belum memiliki keterampilan literasi media kritis memadai untuk membedakan media arus utama dan homeless media. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas literasi media kritis siswa melalui pendampingan terstruktur, mencakup pemahaman karakteristik media, kemampuan mengidentifikasi hoaks dan framing, serta penguatan etika bermedia berbasis nilai keislaman. Kegiatan ini melibatkan 25 siswa kelas XII MA Pondok Pesantren Al Wathoniyyah Klender sebagai mitra sasaran. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatoris melalui lima tahapan: (1) sosialisasi dan pre-test, (2) pelatihan literasi media melalui ceramah interaktif, diskusi, dan studi kasus, (3) penguatan etika bermedia, (4) pendampingan dan evaluasi melalui post-test, serta (5) penyusunan booklet edukatif sebagai luaran keberlanjutan. Hasil kegiatan yang ditargetkan meliputi peningkatan nilai post-test literasi media sebesar 95% dari pre-test, kemampuan di atas 96% siswa mengidentifikasi ciri hoaks, perubahan sikap etika bermedia, serta tersusunnya poster edukatif. Kegiatan ini mendukung pencapaian SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh). Keywords: Homeless Media, Literasi Media, Pondok Pesantren
Copyrights © 2026