Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah lanskap pendidikan, termasuk pendidikan Islam. AI menawarkan peluang berupa personalisasi pembelajaran, perluasan akses, bantuan belajar, dan pengayaan sumber belajar. Namun, semakin kuatnya kehadiran AI juga melahirkan pertanyaan filosofis mendasar mengenai hakikat manusia, makna ilmu, tujuan pendidikan, kedudukan guru, serta pembentukan akhlak peserta didik. Artikel ini bertujuan merekonstruksi paradigma pendidikan Islam di era Artificial Intelligence dengan menempatkan nilai-nilai Islam, akhlak, dan kemanusiaan sebagai fondasi utama transformasi teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan analisis tematik terhadap literatur filsafat pendidikan Islam, pendidikan Islam kontemporer, artificial intelligence, serta kebijakan pendidikan yang berorientasi pada manusia. Hasil kajian menunjukkan bahwa AI harus ditempatkan sebagai instrumen, bukan sebagai subjek atau tujuan akhir pendidikan. Pendidikan Islam perlu bergerak dari paradigma yang berpusat pada teknologi menuju paradigma yang berpusat pada nilai dan manusia, yaitu paradigma yang memanfaatkan AI untuk memperkuat pembelajaran tanpa menggantikan agensi manusia, otoritas pedagogis guru, pembinaan spiritual, dan tanggung jawab moral. Rekonstruksi paradigma tersebut bertumpu pada empat prinsip, yaitu orientasi teologis, pembelajaran yang berpusat pada manusia, literasi etis dan kritis, serta integrasi ilmu dengan akhlak. Dengan demikian, masa depan pendidikan Islam tidak ditentukan semata-mata oleh kecanggihan AI, melainkan oleh kemampuan manusia mengarahkan teknologi untuk membentuk pribadi yang berilmu, berakhlak, matang secara spiritual, dan bertanggung jawab secara sosial.
Copyrights © 2026