Karawitan sebagai salah satu warisan budaya takbenda memerlukan upaya regenerasi dan adaptasi agar tetap relevan di tengah perkembangan sosial dan teknologi. Paguyuban Laras Budoyo yang berlokasi di Jongkang Baru, Kalurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, menghadapi tantangan berupa terbatasnya keterlibatan generasi muda serta belum optimalnya pemanfaatan media digital untuk promosi dan publikasi kegiatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mendukung penguatan aktivitas seni dan promosi digital Paguyuban Laras Budoyo melalui empat pendekatan terintegrasi, yaitu pelatihan karawitan bagi generasi muda, pengembangan media digital, penyediaan perangkat pendukung pertunjukan, dan penyelenggaraan pertunjukan berbasis hibrida. Program dilaksanakan oleh tim dosen lintas disiplin dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Paguyuban Laras Budoyo sebagai mitra utama dalam skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Metode pelaksanaan meliputi observasi dan identifikasi kebutuhan mitra, tiga sesi pelatihan karawitan bagi generasi muda berusia 10–25 tahun, pengembangan dan peluncuran situs web larasbudoyo.com, penyerahan perangkat pendukung pertunjukan, penyelenggaraan pertunjukan hibrida secara luring dan melalui siaran langsung dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, serta evaluasi kegiatan. Hasil menunjukkan bahwa setiap sesi pelatihan diikuti oleh 25–30 peserta. Situs web Laras Budoyo mencatat lebih dari 150 total kunjungan selama periode 15 Agustus – 18 Agustus 2026. Pada pertunjukan hibrida, data platform siaran langsung menunjukkan 180 views, 158 likes, tambahan 3 pelanggan baru, dan 26 interaksi melalui fitur live chat. Capaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan keterlibatan generasi muda dan perluasan pemanfaatan media digital dalam aktivitas Paguyuban Laras Budoyo. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mendukung ekosistem seni karawitan yang lebih adaptif, sekaligus menunjukkan potensi integrasi antara pelestarian budaya, pemberdayaan generasi muda, dan pemanfaatan teknologi digital. Revitalization of the Laras Budoyo Gamelan Art Ecosystem: Digitalization of Works, Hybrid Performances, and Regeneration of Young Artists Based on the Sariharjo Cultural Village Abstract Karawitan, as a form of Indonesia’s intangible cultural heritage, requires continuous regeneration and adaptation to remain relevant amid social and technological change. The Laras Budoyo art community, located in Jongkang Baru, Sariharjo Village, Ngaglik District, Sleman Regency, faces several challenges, particularly limited participation among younger generations and the underuse of digital media for promoting and publicizing its activities. This community engagement program aimed to strengthen the artistic activities and digital promotion of Laras Budoyo through four integrated approaches: karawitan training for young participants, development of digital media, provision of supporting performance equipment, and the organization of hybrid performances. The program was implemented by a multidisciplinary team of lecturers from Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) and Universitas Gadjah Mada (UGM), in collaboration with Laras Budoyo as the main community partner under the Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) scheme. The implementation process included observation and identification of community needs, three karawitan training sessions for participants aged 10 to 25 years, development and launch of the larasbudoyo.com website, provision of performance equipment, a hybrid performance conducted both onsite and through live streaming as part of the 81st Anniversary of Indonesian Independence, and program evaluation. The results showed that each training session involved 25 to 30 participants. The Laras Budoyo website recorded more than 150 total visits during the period of 15 Agustus – 18 Agustus 2026. The live-streamed performance generated 180 views, 158 likes, 3 new subscribers, and 26 live chat interactions. These outcomes indicate increased engagement among younger participants and broader use of digital media in supporting Laras Budoyo’s activities. The program represents an initial step toward supporting a more adaptive karawitan arts ecosystem while also demonstrating the potential of integrating cultural preservation, youth empowerment, and digital technology.
Copyrights © 2026