Industri kerajinan batik kayu di Desa Wisata Krebet, Yogyakarta, memiliki potensi besar sebagai bagian dari ekonomi kreatif berbasis budaya, namun menghadapi permasalahan utama berupa keterbatasan inovasi dan diversifikasi produk, belum konsistennya penerapan manajemen kualitas, serta lemahnya pelayanan dan konektivitas pasar. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan keberlanjutan usaha melalui penguatan kapasitas inovasi, penerapan manajemen kualitas dasar, dan peningkatan kompetensi layanan pelanggan. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dengan lima tahapan, yaitu sosialisasi dan pemetaan kebutuhan, pelatihan berpikir kreatif menggunakan metode CREATE, SCAMPER, dan SCUMPS, pelatihan pengembangan produk dan manajemen kualitas, adopsi teknologi melalui penyediaan peralatan produksi modern, serta pendampingan dan evaluasi berkelanjutan, yang melibatkan ±25 perajin. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan variasi produk inovatif, penerapan praktik pengendalian kualitas sederhana, peningkatan efisiensi produksi, serta perbaikan kualitas pelayanan pelanggan baik secara luring maupun daring. Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian SDGs, khususnya SDG 8, SDG 9, dan SDG 12. Dengan demikian, kegiatan ini efektif dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan industri kreatif batik kayu melalui pendekatan terintegrasi berbasis inovasi, kualitas, dan layanan. Sustaining the Krebet Wood Batik Creative Industry through Strengthening Innovation and Enhancing Quality Management Abstract The wood batik craft industry in Krebet Tourism Village, Yogyakarta, has significant potential as part of a culture-based creative economy; however, it faces key challenges including limited innovation and product diversification, inconsistent implementation of quality management, and weak service capability and market connectivity. This community engagement program aimed to enhance business sustainability by strengthening artisans’ innovation capacity, implementing basic quality management practices, and improving customer service competencies. A participatory approach was employed through five stages: socialization and needs assessment, creative thinking training using CREATE, SCAMPER, and SCUMPS methods, product development and quality management training, technology adoption through the provision of modern production equipment, and continuous mentoring and evaluation, involving approximately 25 artisans. The results indicate an increase in innovative product variations, the adoption of simple quality control practices, improved production efficiency, and enhanced customer service quality both offline and online. The program also contributes to the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 8, SDG 9, and SDG 12. It can be concluded that this integrated approach based on innovation, quality management, and service improvement is effective in strengthening the competitiveness and sustainability of the wood batik creative industry.