Penelitian ini menganalisis bagaimana self disclosure berperan dalam proses pemulihan bagi klien yang menerima rehabilitasi dari penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya di Badan Narkotika Nasional Jawa Tengah. Penelitian dilakukan melalui program Intervensi Berbasis Masyarakat Mekar Berseri yang berlokasi di Kelurahan Purwosari. Dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan desain studi kasus, data diperoleh dari tiga klien yang diwawancarai secara mendalam, dengan rentang usia 15-23 tahun. Data tersebut dianalisis menggunakan perangkat lunak MAXQDA berdasarkan lima aspek self disclosure yaitu kuantitas, valensi, akurasi, intensi, dan keintiman. Untuk memvalidasi data hasil penelitian dengan menggunakan triangulasi sumber data. Temuan penelitian menunjukkan adanya variasi dalam pengungkapan diri, di mana klien cenderung fokus pada hal-hal positif atau aspek tertentu yang berkaitan dengan pengalaman mereka dengan narkoba. Terdapat juga beberapa hambatan yang muncul, seperti kecenderungan untuk menyembunyikan masalah dan kurangnya kejujuran. Aspek kuantitas, keluasan, dan keintiman menjadi yang paling dominan, ditandai dengan kejujuran dan penilaian terhadap pengungkapan. Selain itu, ditemukan juga pengaruh kepribadian masing-masing individu. Kesimpulan dari penelitian ini menyoroti bahwa self disclosure adalah proses yang dinamis, yang memberikan dukungan bagi pemulihan melalui pengendalian diri, dukungan emosional, dan pengurangan rasa cemas. Rekomendasi diberikan untuk pemberian intervensi konseling yang lebih baik agar pengungkapan diri dapat dilakukan secara optimal.
Copyrights © 2026